Pengertian kandang sapi lebih kepada rumah pengobatan karena kabar beredar Mama Kandang Sapi suka menolong dan melakukan pengobatan.
Pernah ada cerita selagi muda Mama Kandang Sapi kedatangan tamu. Tamu tersebut meminta agar Mama Kandang Sapi mengobati penyakitnya meski Mama telah menolak namun tamu tersebut sedikit memaksa.
Mama akhirnya mau memberikan air putih pada cangkir batok kelapa yang disertai doa dan atas izin Allah SWT seketika orang tersebut sembuh. Sejak saat itu rumah Mama kebanjiran pengunjung yang minta diobati lahir dan bathinnya.
Setiap hari rumahnya disesaki pengunjung bahkan banyak yang tak kebagian tempat dan akhirnya bergerombol di halaman rumah, sejak itu sebutan kandang sapi pun akrab di warga Cianjur.
Mama dikenal dermawan ia tak menerima bantuan dari warga yang berkunjung, sedekah yang didapat ia berikan lagi kepada warga sekitar atau santrinya yang kurang mampu. Hingga kini pesantren Kandang Sapi hanya dihuni sekitar 42 orang.
Para santrinya tak dipungut biaya apa pun. Pengelolaan pesantren dan perawatan makam didanai oleh anak-anak dan cucu Mama Kandang Sapi.
Sejak dulu memang pesantren ini dikenal mandiri mengelola para santrinya yang dipupuk dengan ilmu agama hingga jadi kiai. "Mama membekali beberapa lahan sawah untuk membiayai pesantren dan santri," ujar Munandar.
Mama Kandang Sapi berangkat ke Cianjur pada usia 50 tahun dan mendirikan pesantren. Saat itu yang menjadi rekan mendirikan pesantren di wilayah Cianjur adalah Mama Gentur dan Mama Ciharasas.
Berbeda dengan pesantren lainnya, hingga saat ini pesantren Kandang Sapi netral dan tidak memihak satu partai politik mana pun.
"Itu sesuai dengan pesan mama dulu dan tetap kami pegang hingga sekarang. Pembangunan masjid ini pun kami lakukan secara mandiri," kata Munandar.
Mama Kandang Sapi memiliki sembilan orang anak dari empat istri. Mereka adalah KH Fatah yang mendirikan Pesantren Ciandam, Hj Khotimah yang mendirikan Pesantren Sindang Reret, Hj Zakiyah, KH Sadili, KH Hidayat, Hj Hasanah, KH Miftah, Hj Fatonah, dan KH Jamaludin.
Keempat istri Mama Kandang Sapi tinggal berdekatan dan selalu diperlakukan adil. Hal tersebut terlihat dari empat rumah yang dibangun serupa lengkap dengan tanamannya.
"Di depan rumah istri-istrinya, ada jeruk bali dan pohon jambu yang seragam ditanam," kata Munandar.
Mama Kandang Sapi dikenal sebagai Kiai Sufi. Ia meninggal pada 1977 di usia 133 tahun. Selama 93 tahun sejak usia remaja Mama Kandang Sapi rajin berpuasa tiap hari.
"Kecuali pada hari tasyrik hari-hari dilarang berpuasa atau saat dikunjungi sahabat dan kerabatnya beliau tak berpuasa," kata Munandar.
Sesuai dengan wasiatnya, Mama Kandang Sapi dikuburkan di depan masjid yang dibangunnya pada 1897. Masjid yang seluruh bangunannya terbuat dari kayu itu masih berdiri kokoh hingga sekarang.
Baca tanpa iklan