News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Ramadan 2026

Haedar Nashir Ajak Umat Islam Sikapi Perbedaan Awal Ramadan dengan Tasamuh

Editor: Eko Sutriyanto
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

PERBEDAAN AWAL RAMADAN - Di tengah potensi perbedaan awal Ramadan 1447 Hijriah, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir meminta umat Islam mengedepankan tasamuh dan kecerdasan, serta memaknai puasa sebagai sarana meneduhkan kehidupan sosial. Tasamuh bermakna sikap lapang dada,  keluasan pikiran dan toleransi

TRIBUNNEWS.COM, YOGYAKARTA - Di tengah potensi perbedaan awal Ramadan 1447 Hijriah, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir meminta umat Islam mengedepankan tasamuh dan kecerdasan, serta memaknai puasa sebagai sarana meneduhkan kehidupan sosial.

Tasamuh bermakna sikap lapang dada,  keluasan pikiran dan toleransi.

Ia menegaskan, perbedaan penetapan awal Ramadan merupakan bagian dari ruang ijtihad yang sah dalam Islam dan tidak semestinya memicu perpecahan di tengah umat.

Menurutnya, setiap pihak memiliki dasar dan metode masing-masing yang perlu dihormati.

“Dalam ruang ijtihad, tidak perlu saling menyalahkan atau merasa paling benar sendiri. Yang terpenting adalah bagaimana umat menyikapinya dengan kedewasaan dan sikap tasamuh,” ujar Haedar Nashir, Selasa (17/2/2026).

Haedar menekankan, substansi utama puasa Ramadan adalah peningkatan ketakwaan, baik secara personal maupun kolektif. 

Baca juga: Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir Terima Nobel Perdamaian Asia Zayed Award di Abu Dhabi

Karena itu, umat Islam diminta lebih fokus pada nilai-nilai ibadah dan perbaikan diri, bukan terjebak pada perdebatan teknis yang berpotensi mengganggu persaudaraan.

Ia berharap, peningkatan ketakwaan selama Ramadan dapat berdampak langsung pada kualitas relasi sosial di masyarakat.

Puasa, kata Haedar, seharusnya melahirkan pribadi-pribadi yang lebih sabar, peduli, dan mampu menebar kebaikan bagi sesama serta lingkungan sekitar.

Dalam konteks sosial yang lebih luas, Haedar mengingatkan bahwa Ramadan harus menjadi sarana memperkuat kohesi sosial.

Umat Islam diharapkan mampu menahan diri dari konflik, termasuk di ruang publik dan media sosial, yang kerap memicu perpecahan.

“Puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan hawa nafsu yang merusak kehidupan sosial. Ramadan harus menjadi kanopi sosial yang meneduhkan,” ujarnya.

Ia pun mengajak umat Islam menjadikan Ramadan sebagai momentum untuk memperbaiki akhlak pribadi dan publik, sekaligus meningkatkan kualitas kehidupan di berbagai bidang.

Menurutnya, ketakwaan sejati akan bermuara pada kemajuan spiritual, sosial, dan kemanusiaan.

Umat Islam di seluruh dunia akan memulai puasa Ramadan 1447 H/2026.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini