Pendekatan ini menempatkan puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi juga sebagai proses pengelolaan stres.
Saat tubuh dan pikiran lebih tenang, risiko gangguan lambung pun bisa ditekan.
Kurang Tidur Saat Ramadan Perlu Disiasati
Perubahan jadwal selama Ramadan sering membuat waktu tidur berkurang. Aktivitas sahur, ibadah malam, dan rutinitas harian menggeser pola istirahat.
Menurut dr. Achmadi, penyesuaian tetap diperlukan agar tubuh tidak jatuh sakit akibat kelelahan.
Istirahat cukup menjadi bagian penting dari ibadah yang berkelanjutan.
“Ya minimal kita dalam sehari semalam usahakan tidur tidak lewat dari minimal paling tidak lima jam istirahat itu,"lanjutnya.
Waktu tidur yang berkurang pada malam hari bisa diganti di waktu lain.
Intinya, ritme hidup selama sebulan puasa perlu diatur ulang agar keseimbangan tubuh tetap terjaga.
Pendekatan ini menjadi penting terutama menjelang sepuluh hari terakhir Ramadan, ketika intensitas ibadah meningkat.
Tanpa manajemen istirahat yang baik, tubuh justru berisiko mengalami penurunan kondisi.
Penyakit Kronis Tetap Perlu Olahraga
Bagi penderita penyakit kronis, olahraga tetap menjadi bagian penting selama puasa. Aktivitas fisik tidak harus dihentikan, tetapi perlu disesuaikan intensitasnya.
Latihan ringan dinilai paling aman untuk menjaga kebugaran tanpa memicu hipoglikemia atau dehidrasi. Waktu pagi hari menjadi pilihan yang relatif aman untuk bergerak aktif.
Dalam penanganan penyakit kronis, olahraga dan perbaikan gaya hidup menempati posisi utama. Pengobatan bukan satu-satunya solusi.
Dokter menekankan bahwa intervensi kesehatan dimulai dari perubahan gaya hidup, pengaturan makan, aktivitas fisik, dan kestabilan emosional.
Obat menjadi langkah lanjutan yang harus digunakan sesuai arahan medis.
Baca tanpa iklan