Pemahaman mengenai cara kerja lambung — yang menghancurkan makanan secara mekanik (gerakan memompa) dan kimiawi (asam lambung) — menjadi kunci agar masyarakat lebih waspada dalam menjaga kesehatan pencernaan mereka.
Hindari Pemicu GERD saat Puasa
Menurut dr. Wikan, kunci utama mencegah GERD saat puasa adalah disiplin terhadap pola makan dan aktivitas pasca-makan.
Ia menyarankan untuk mengurangi konsumsi makanan pedas, asam, dan makanan yang mengandung gas tinggi saat sahur maupun berbuka.
Selain itu, dr. Wikan menekankan bahwa kebiasaan berbaring setelah makan sahur juga menjadi pemicu utama GERD.
"Berikan jeda minimal satu hingga dua jam agar proses pencernaan mekanik di lambung selesai sebelum tubuh dalam posisi rebahan," ucapnya.
Baca juga: Jangan Anggap Sepele GERD Pada Anak: Ganggu Asupan Nutrisi, Esofagus Rusak
Setelah makan, ungkap dr. Wikan, lakukan aktivitas ringan seperti berjalan kaki atau duduk tegak untuk membantu gravitasi menjaga makanan tetap di dasar lambung.
Jika asam lambung sudah terlanjur naik, dr. Wikan memberikan langkah-langkah darurat untuk meredakan rasa tidak nyaman:
1. Minum Air Putih
Air putih berfungsi untuk membilas atau mengencerkan asam lambung yang naik ke esofagus.
2. Konsumsi Obat
Jika gejala menetap, penggunaan obat penurun asam lambung sangat dianjurkan untuk menetralkan korosivitas cairan lambung.
3. Atur Posisi Tidur
Gunakan bantal yang lebih tinggi sehingga posisi kepala dan kerongkongan berada di atas lambung untuk mencegah aliran balik asam saat beristirahat.
Puasa sebagai "Terapi" Lambung
Menariknya, dr. Wikan menegaskan bahwa puasa sebenarnya bisa menjadi terapi bagi penderita gangguan lambung, asalkan dikelola dengan benar.
Dengan berpuasa, lambung memiliki waktu istirahat yang teratur dan beban kerja klep lambung menjadi lebih terkontrol dibandingkan saat makan tidak teratur di luar bulan Ramadhan.
Baca tanpa iklan