TRIBUNNEWS.COM - Orang yang sedang berpuasa harus menghindari hal-hal yang dapat membatalkan puasa.
Di antara hal yang membatalkan puasa adalah dengan sengaja memasukkan sesuatu ke dalam tubuh melalui rongga luar yang terbuka, seperti mulut, dubur, dan qubul.
Mengenai hukum mengorek telinga dan hidung, tidak ada dalil, baik umum dan khusus, yang menunjukkan bahwa aktivitas itu membatalkan puasa.
Imam Syafi’i berpendapat, membersihkan hidung dan telinga tidak membatalkan puasa selama tidak ada sesuatu yang masuk ke dalam rongga tubuh.
Dalam sebuah riwayat dijelaskan bahwa diperbolehkan untuk menghirup air saat wudhu, namun tidak berlebihan ketika berpuasa, karena dikhawatirkan air wudhu tersebut dapat tertelan melalui hidung hingga ke tubuh.
Dari Laqith bin Shabirah, Rasulullah SAW bersabda: “Bersungguh-sungguhlah dalam menghirup air ke dalam hidung (saat wudhu), kecuali jika engkau sedang berpuasa.” (HR. Sunan Abu Dawud dan Jami at-Tirmidzi, dinilai hasan sahih)
Adapun mengenai membersihkan telinga, Imam Syafi’i berpendapat bahwa hal itu tidak membatalkan puasa selama tidak ada benda atau cairan yang benar-benar masuk ke bagian dalam telinga.
Alasannya, lubang telinga tidak dianggap sebagai saluran terbuka yang langsung terhubung ke perut atau otak sehingga membatalkan puasa.
Pendapat tersebut didukung oleh ulama besar Arab Saudi, Syekh Assim Al Hakeem, yang menegaskan penggunaan obat tetes telinga tidak membatalkan puasa, meski obat itu terasa di tenggorokan.
Hal ini karena telinga tidak terhubung langsung ke saluran pencernaan.
Begitupun dengan memasukkan cotton bud untuk membersihkan telinga.
Baca juga: Apakah Berkata Kasar Membatalkan Puasa? Simak Penjelasannya
Hal yang Membatalkan Puasa
Menurut para ulama, setidaknya ada tujuh hal yang dapat membatalkan puasa, sebagaimana disebutkan Kementerian Agama dalam laman resminya.
1. Makan dengan sengaja
Saat berpuasa, seseorang harus menahan diri dari kebutuhan dasar seperti makan dan minum sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT, meskipun makanan dan minuman itu sebenarnya halal di luar waktu puasa.
Menahan lapar dan haus bukan hanya sekadar menjalankan kewajiban, tetapi juga melatih kejujuran, kesabaran, dan kemampuan mengendalikan diri.
Rasulullah SAW bersabda: “Setiap amalan Anak Adam kebaikannya dilipatgandakan menjadi sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman: “Kecuali puasa, sesungguhnya ia adalah (khusus) bagi-Ku dan Aku yang akan memberikan pahalanya, ia (orang yang berpuasa) meninggalkan syahwatnya dan makanannya karena Aku.” (HR. Imam Muslim).
Baca tanpa iklan