News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Ramadan 2026

Sekjen PKB: Guru Ilmu Banyak, Guru Adab Sulit Dicari

Penulis: Chaerul Umam
Editor: Wahyu Aji
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

KAJIAN RAMADAN - DPP PKB melanjutkan Kajian Rutin Ramadan Seri ke-4, di Kantor DPP PKB, Jakarta Pusat, Senin (23/2/2026). Dalam forum tersebut, kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim karya Hadratussyeikh KH. Hasyim Asy'ari menjadi rujukan utama.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menegaskan komitmennya membangun politik berbasis adab melalui Kajian Rutin Ramadan Seri ke-4. 

Dalam forum tersebut, kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim karya KH Hasyim Asy'ari dijadikan rujukan utama untuk memperkuat fondasi moral para kader.

Kitab ini membahas etika, adab, dan tanggung jawab moral seorang guru (‘alim) maupun murid (muta’allim) dalam proses belajar-mengajar. 

Sekjen DPP PKB, Hasanuddin Wahid (Cak Udin), menekankan bahwa adab harus menjadi fondasi utama dalam praktik politik, terlebih di tengah dinamika nasional yang semakin kompleks.

“Mencari orang pintar itu banyak. Mencari orang cerdas itu mudah. Tapi mencari orang beradab itu sulit. Hari ini guru ilmu sangat mudah—ChatGPT, AI, dan teknologi digital tersedia di genggaman. Tetapi guru adab tidak bisa dicari sembarangan. Perlu istikharah, perlu sanad, perlu keteladanan,” katanya di kantor DPP PKB, Jakarta Pusat, Senin (23/2/2026).

Menurut Cak Udin, politik yang kehilangan dimensi moral berpotensi terjebak pada pragmatisme dan transaksi kepentingan semata.

Sebab itu, PKB memilih menjadikan warisan ulama sebagai kompas perjuangan agar tetap berada dalam koridor nilai keumatan dan kebangsaan.

Cak Udin menjelaskan, ada dua alasan utama PKB terus mengkaji karya-karya KH Hasyim Asy'ari.

Pertama, sebagai bentuk kecintaan dan komitmen intelektual terhadap pemikiran sang ulama. 

PKB ingin para kadernya tidak hanya terhubung secara historis, tetapi juga secara nilai dan perjuangan sebagai santri Hadratusyaikh.

Kedua, sebagai bentuk pengabdian dalam menjaga dan membesarkan karya terbesar beliau, yakni Nahdlatul Ulama (NU). Bagi PKB, merawat NU merupakan tanggung jawab ideologis yang melekat pada identitas partai.

“Sepelik apa pun dunia politik Indonesia, kita masih punya kendali. Kendali itu adalah kitab kuning karya para ulama. Dan NU itu adalah kitab kuning terbesar Mbah Hasyim. Itulah pemandu kita. Tidak banyak partai politik yang menjadikan kitab kuning sebagai arah perjuangan,” ucapnya.

Kajian ini dibuka dan dipandu oleh KH. Fahmi Amrullah Hadziq, cucu langsung Hadratusyaikh Hasyim Asy’ari.

Kehadiran beliau memperkuat sanad keilmuan sekaligus menegaskan ikatan historis PKB dengan tradisi pesantren.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini