News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Ramadan 2026

Mutiara Ramadan, Berdamailah dengan Musibah, Jangan Takut

Editor: Anita K Wardhani
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

MUTIARA RAMADAN - Ujian hidup seperti musibah.Jangan takut menghadinya degan iman.  Ini penjelasan  Menag Nasaruddin Umar dalam Mutiara Ramadan Tribun.


Oleh Menteri Agama RI Nasaruddin Umar

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ujian hidup seperti musibah bak dinamika. Jangan takut menghadinya degan iman.  


Berikut penjelasan  Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar dalam Mutiara Ramadan Tribunnews.com. 

Di mana ada ujian di situ ada kenaikan kelas.Tanpa ujian sulit menggapai kenaikan kelas. Musibah itu ujian, jangan takut menghadapi ujian karena hanya dengan ujian martabat kita bisa meningkat.

Baca juga: Mutiara Ramadan, Puasa Obat Mujarab Menghilangkan Stres


Kematangan seseorang diuji dengan berbagai tantangan, bahkan cobaan. Hanya saja masih jarang orang menyadari bahwa musibah dan penderitaan adalah ujian kenaikan kelas. 


Jikackita merenung dan berkontemplasi sejenak, maka memang benar bahwa di balik setiap musibah
dan penderitaan selalu ada rahasia Tuhan yang sulit ditebak. Banyak ayat dalam Alquran
mengajak kita untuk bersabar menghadapi musibah karena ternyata musibah adalah surat cinta
Tuhan kepada hamba yang dikasihinya.
 
Suatu saat Nabi Yusuf berdoa: “Rab al-sijn ahbbu ilaiyya” (Ya Allah penjara aku lebih
sukai) (Q.S. Yusuf/12:33). Ini diungkapkan ketika ia dipaksa oleh raja melakukan sesuatu yang
bertentangan dengan hati nuraninya. Ia memilih hidup menderita di ruang gelap dan sempitnya
penjara ketimbang gemerlapnya istana yang ditawarkan kepadanya. 


Ternyata bukan hanya Nabi Yusuf, sejarah panjang perjuangan bangsa Indonesia memiliki daftar panjang nama-nama yang rela menderita demi untuk meraih keerdekaan untuk anak-cucunya.  


Mungkin, kita pernah mengalami dalam kadar tertentu. Ini membuktikan bahwa ternyata penderitaan tidak selamanya menyakitkan tetapi kadang dirasa lebih asyik, karena boleh jadi merasa sedang bersama denganTuhan. 


Banyak orang yang bukan Nabi juga lebih memilih penderitaan secara fisik demi ketenagan batinnya, ketimbang bahagia secara fisik tetapi menderita secara batin. 


Musibah, bala, kekecewaan, dan ketidak nyamanan bisa diubah menjadi sebuah kenyamanan, jika suasana batinn aktif di dalam hati seseorang. Musibah dan penderitaan yang seharusnya menjadi sesuatu yang merepotkan, mengecewakan, menyakitkan, dan memalukan tetapi ada orang yang berhasil menjadikannya sebagai suatu kenikmatan. 


Penyakit yang mendera Nabi Ayyub sekujur badannya dikerumuni belatung membuatnya ia dibuang di sebuah gua di pegunungan di luar perkampungan, ia tiba-tiba mengatakan kepada para belatung di sekujur tubuhnya, kalian dulu makhluk yang paling aku benci, di mana-mana saya mencari tatbib untuk memusnahkanmu tetapi kalian tetap betah di tubuhku. 


Sekarang kalian bersenang-senanglah, karena ternyata kalian adalah sahabat setiaku. Satu-satunya yang bisa menemaniku di kegelapan gua ini hanya kalian. Ayub tidak lagi merasa sakit dari gigiran belatung-belatung itu. Penderitaan, rasa sakit, kecewa, malu, menderita, dan tertekan hanyalah masalah psikologis. 


Musibah bisa diajak berkompromi. Musibah bisa dijadikan batu loncatan untuk naik
lebih tinggi dari tempat semula. Banyak contoh dalam kehidupan kita musibah dijadikan sebagai
hikmah untuk lebih maju, kreatif, dan berhasil. 


Jangan memusuhi musibah karena pasti terasa lebih sakit. Jangan memusuhi penyakit karena pasti penyakit itu lebih terasa mendera. 


Nikmatipenderitaan itu, niscaya kadar rasa sakitnya akan berkurang secara signifikan.Demikian pendapat para ahli anastesia. 

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini