TRIBUNNEWS.COM - Ramadan selalu menjadi momen bagi brand global untuk berlomba menunjukkan empati dan sensitivitas budaya.
Upaya ini juga dilakukan oleh McDonald's Jerman yang mengambil langkah cukup ekstrem sekaligus cerdas dengan "menyembunyikan" menu andalannya dari ruang publik selama jam puasa.
Di Jerman sendiri, sekitar 6 juta umat Muslim merayakan Ramadan setiap tahunnya.
Menyadari besarnya audiens tersebut, McDonald’s Jerman melakukan pendekatan yang tidak biasa pada papan iklan digital mereka.
Alih-alih memamerkan produk unggulan, jaringan resto cepat saji ini justru "mengosongkan" konten iklan mereka sepanjang siang hari.
Dikutip dari Newsweek, kampanye yang digarap oleh agensi kreatif Scholz & Friends ini memanfaatkan teknologi Digital Out-of-Home (DOOH) yang diprogram secara spesifik.
Selama jam puasa, layar iklan hanya menampilkan kemasan McDonald’s seperti wadah kentang goreng merah-kuning dan kotak burger dalam keadaan tertutup dan benar-benar kosong.
Transformasi visual baru terjadi tepat saat matahari terbenam.
Mengandalkan data waktu salat setempat, kemasan kosong tersebut "terisi" secara real-time dengan gambar Big Mac atau kentang goreng yang hangat.
Perubahan ini disetel agar selaras dengan waktu berbuka puasa.
Menurut laporan dari Newsweek, langkah ini bertujuan menghindari paparan gambar makanan yang menggoda bagi mereka yang sedang menahan lapar dan dahaga di ruang publik.
Baca juga: Ramadan Hari Ketujuh: Refleksi Menag Nasaruddin Umar tentang Jalan Panjang Menuju Ketenangan Batin
Agensi pengembangnya menyebut, ini sebagai bentuk periklanan yang lebih "peduli" dan sensitif secara budaya.
Jerman bukan satu-satunya pasar di mana McDonald’s menyesuaikan narasinya selama bulan suci.
Strategi serupa namun dengan sentuhan lokal yang berbeda juga terlihat di Asia Tenggara.
Baca tanpa iklan