Ringkasan Berita:
- Muslim dianjurkan membaca doa ketika melakukan perjalanan jauh agar selalu dilindungi Allah SWT.
- Selain doa perjalanan jauh, dapat ditambah dengan doa naik kendaraan, doa keluar rumah, dan doa memohon keselamatan dan kesehatan.
- Dalam Islam, muslim diajarkan untuk mengamalkan adab baik selama dalam perjalanan, rendah hati, dan selalu mengingat Allah SWT.
TRIBUNNEWS.COM - Setiap muslim dianjurkan untuk selalu berdoa ketika melakukan perjalanan jauh, termasuk ketika mudik lebaran.
Doa orang yang sedang dalam perjalanan merupakan salah satu doa yang tidak tertolak.
Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda: "Ada tiga doa mustajabah yang tidak disangsikan lagi, yaitu doa orang teraniaya, doa orang dalam perjalanan, dan doa orang tua untuk anaknya.” (HR Abu Dawud, At-Tirmiżi, dan Ibnu Majah).
Selain itu, muslim yang melakukan perjalanan jauh diberi keringanan oleh Allah SWT, yaitu diperbolehkan menjamak sholat fardhu jika tidak dapat menemukan tempat untuk sholat.
Rasulullah SAW mengajarkan agar orang-orang yang bepergian untuk selalu rendah hati, tidak sombong, dan bersyukur dengan mengingat Allah SWT.
"Dan bertawakallah kepada Allah, sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Maidah: 76)
Agar perjalanan menjadi penuh berkah dan selamat sampai tujuan, muslim dapat membaca doa di bawah ini, yang dikutip dari laman Kementerian Agama.
Doa Perjalanan Jauh Mudik Lebaran
اَللَّهُمَّ بِكَ أَسْتَعِيْنُ، وَعَلَيْكَ أَتَوَكَّلُ، اَللَّهُمَّ ذَلِّلْ لِي صُعُوْبَةَ أَمْرِيْ، وَسَهِّلْ عَلَيَّ مَشَقَّةَ سَفَرِيْ، وَارْزُقْنِيْ مِنَ الخَيْرِ أَكْثَرَ مِمَّا أَطْلُبُ، وَاصْرِفْ عَنِّي كُلَّ شَرٍّ، رَبِّ اشْرَحْ لِيِ صَدْرِيْ، وَيَسِّرْ لِيْ أَمْرِيْ
Allāhumma bika asta‘īnu, wa ‘alaika atawakkalu. Allāhumma dzallil lī ṣu‘ūbata amrī, wa sahhil ‘alayya masyaqqata safarī, warzuqnī minal khairi mim mā aṭlubu, waṣrif ‘annī kulla ṣyarr, rabbiṣ-raḥlī ṣadrī wa yassir lī amrī.
Artinya: “Ya Allah, kepada-Mu aku memohon pertolongan dan kepada-Mu aku berpasrah. Ya Allah, ringankan kesulitan pada urusanku, mudahkanlah kendala perjalananku, karuniakanlah kebaikan bagiku melebihi apa yang kuminta, palingkanlah segala keburukan dariku. Tuhanku, lapangkanlah hatiku dan mudahkanlah urusanku.”
Baca juga: Doa Ramadan Hari Ke-24, Mohon Perlindungan dari Murka Allah SWT
Doa Mohon Keselamatan dan Kesehatan Selama Perjalanan
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ فِي سَفَرِي هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى، وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى
Allahumma inni as'aluka fi safari hadzal birra wat taqwa, wa minal 'amali ma tardha.
Artinya: "Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dalam perjalananku ini kebajikan dan ketakwaan, serta amal yang Engkau ridhai."
Doa Naik Kendaraan Darat
سُبْحَانَ الَّذِىْ سَخَّرَلَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِيْنَ وَاِنَّآ اِلَى رَبّنَا لَمُنْقَلِبُوْن
Subhaanalladzi sakhoro lana hadza wa ma kunna lahu muqrinin, wa innaa ilaa robbina lamunqolibuun.
Artinya: “Maha suci Allah yang memudahkan ini (kendaraan) bagi kami dan tiada kami mempersekutukan bagi-Nya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami.”
Doa Naik Kendaraan Laut
بِسْمِ اللهِ مَجْرَاهَا وَمُرْسَاهَا إِنَّ رَبِّي لَغَفُورٌ رَحِيمٌ
Bismillaahi majreehaa wa mursaahaa inna robbii laghofuurur rohiim.
Artinya: “Dengan nama Allah yang menjalankan kendaraan ini berlayar dan berlabuh. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Doa Naik Kendaraan Udara
اَللّٰهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا وَاطْوِعَنَّابُعْدَهُ اَللّٰهُمَّ اَنْتَ الصَّاحِبُ فِى السَّفَرِوَالْخَلِيْفَةُفِى الْاَهْلِ
Allaahumma hawwin ‘alainaa safaranaa hadzaa wathwi ‘annaa bu’dahu allaahumma anta ashshoohibu fissafari walkholiifatu fil-ahl.
Artinya: “Ya Allah, mudahkanlah kami bepergian ini, dan dekatkanlah kejauhannya. Ya Allah yang menemani dalam bepergian, dan Engkau pula yang melindungi keluarga.”
Selain doa di atas, seorang muslim dianjurkan untuk berdoa ketika keluar dari rumah.
Doa Keluar Rumah
بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ
Bismillahi tawakkaltu' alalloh, laa hawla wa laa quwwata illaa billaah.
Artinya: “Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada-Nya; tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Nya.”
Adab Ketika Bepergian
Setiap muslim perlu mengetahui adab ketika melakukan perjalanan jauh agar selamat sampai tujuan, sebagaimana dijelaskan Kementerian Agama, Muhammadiyah, dan buku Panduan Musafir, Adab dan Hukum Dalam Safar oleh Abdullah Haidir, diterbitkan oleh Kantor Da'wah dan Bimbingan Bagi Pendatang pada tahun 2005 di Arab Saudi.
1. Memilih Hari dan Waktu yang Baik untuk Berangkat
Dalam Islam, dianjurkan memilih waktu yang baik ketika hendak melakukan perjalanan jauh.
Nabi Muhammad sering melakukan safar pada hari Kamis dan pada waktu pagi hari, karena waktu tersebut dianggap membawa keberkahan dan memudahkan perjalanan.
“Jarang sekali Rasulullah SAW bepergian kecuali pada hari Kamis.” (HR. Bukhari & Muslim)
"Sesungguhkan Nabi Saw keluar pada hari Kamis saat perang Tabuk, dan beliau menyukai keluar (untuk safar) pada hari Kamis." (HR Bukhari)
2. Berpamitan dan Meminta Doa
Sebelum berangkat, seorang muslim dianjurkan untuk berpamitan kepada orang tua, keluarga, dan orang terdekat.
Selain sebagai bentuk sopan santun, hal ini juga bertujuan agar mereka mendoakan keselamatan dan kelancaran perjalanan.
Rasulullah SAW bersabda, “Aku titipkan agama-mu, amanah-mu, dan akhir dari amalanmu.” (HR. Abu Dawud no. 2233)
3. Membaca Doa dan Berserah Diri kepada Allah
Ketika akan keluar rumah atau memulai perjalanan, seorang muslim dianjurkan membaca doa dan menyerahkan segala urusannya kepada Allah.
Hal ini sebagaimana dalam sabda Rasulullah SAW: “Apabila seseorang keluar dari rumahnya lalu mengucapkan: Bismillāhi tawakkaltu ‘alallāh, lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh, maka dikatakan kepadanya: Engkau telah diberi petunjuk, dicukupkan, dan dilindungi.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
"Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Dia akan mencukupkan (keperluannya). Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendaki-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu." (QS. At-Talaq ayat 3)
4. Memperbanyak Dzikir dan Doa Selama Perjalanan
Selama berada dalam perjalanan, umat Islam dianjurkan untuk sering mengingat Allah dengan berdzikir dan berdoa.
Perjalanan termasuk waktu yang baik untuk memohon kepada Allah, sehingga kesempatan tersebut sebaiknya dimanfaatkan dengan memperbanyak ibadah.
“Rasulullah SAW dan pasukannya apabila mendaki, mereka bertakbir; bila turun bertasbih.” (HR. Abu Dawud)
"Tiga doa yang tidak diragukan lagi akan dikabulkan: Doa orang tua untuk anaknya, doa seorang musafir dan doa orang yang dizalimi." (HR Abu Dawud)
5. Tetap Menjaga Ibadah dan Memanfaatkan Keringanan Safar
Walaupun sedang bepergian, seorang muslim tetap wajib menjaga ibadah, terutama salat.
Namun Islam memberikan keringanan bagi musafir, seperti boleh menjamak atau mengqashar salat agar lebih mudah dilaksanakan selama perjalanan, sebagaimana disebutkan dalam hadis dan Al-Quran.
“Salat yang difardhukan bagi penduduk adalah empat raka’at, bagi musafir dua raka’at.” (HR. Abu Dawud)
"Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu qashar sholat (mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir." (QS. An-Nisa: 10)
"Sesungguhnya Allah senang jika keringanan-keringanan-Nya (rukhsah-Nya) digunakan sebagaimana Dia senang jika ajaran-ajaran-Nya yang lengkap digunakan." (HR Ahmad, Baihaqi dan Thabrani)
6. Menjaga Cara Berpakaian dan Sikap
Saat berada dalam perjalanan, seorang muslim dianjurkan tetap berpakaian sopan dan menutup aurat.
Selain itu, sikap juga harus dijaga dengan bersikap rendah hati, tidak berlebihan, dan tidak bersikap sombong kepada orang lain.
“Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya, memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan jangan menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, ayah mereka, ayah suami mereka, putra-putra mereka, putra-putra suami mereka, saudara-saudara mereka, putra-putra saudara laki-laki mereka, putra-putra saudara perempuan mereka, perempuan-perempuan (sesama muslimah), hamba sahaya yang mereka miliki, pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan terhadap perempuan, atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan..." (QS. An-Nur: 31)
7. Adab Khusus bagi Wanita
Bagi wanita muslim, ada beberapa adab tambahan ketika bepergian.
Di antaranya tidak menggunakan wangi-wangian secara berlebihan serta dianjurkan melakukan perjalanan bersama mahram agar lebih aman dan terjaga, sebagaimana dijelaskan dalam hadis.
“Jika seorang wanita memakai wewangian lalu berjalan melewati orang banyak agar mereka mencium baunya, maka ia seperti seorang pezina, dan beliau (Rasulullah) mengucapkannya dengan nada keras.” (HR. Abu Dawud no. 4173)
"Tidak halal bagi seorang wanita beriman kepada Allah dan hari akhir untuk melakukan safar perjalanan sehari semalam kecuali jika bersama mahram." (HR Ahmad, Abu Daud, dan Tirmidzi)
8. Tidak Bepergian Sendirian dan Menunjuk Pemimpin
Islam menganjurkan agar perjalanan dilakukan bersama beberapa orang, tidak sendirian.
Jika bepergian dalam kelompok, disunnahkan menunjuk seorang pemimpin agar perjalanan lebih teratur dan keputusan dapat diambil dengan baik.
"Jika ada tiga orang yang melakukan safar (perjalanan), hendaklah mereka mengangkat salah seorang sebagai pemimpin." (HR Abu Daud)
9. Segera Pulang Setelah Keperluan Selesai
Setelah urusan selesai, seorang musafir dianjurkan untuk segera kembali ke rumah.
Hal ini dilakukan agar dapat kembali berkumpul dengan keluarga dan tidak terlalu lama berada jauh dari mereka.
"Jika seseorang telah menyelesaikan keperluannya, hendaklah dia kembali kepada keluarganya." (HR Bukhari)
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)
Baca tanpa iklan