Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Allah berfirman bahwa puasa dilakukan semata-mata untuk-Nya, dan Dia sendiri yang akan memberikan balasannya.
Hal ini menunjukkan bahwa puasa memiliki nilai spiritual yang sangat tinggi di sisi Allah.
Puasa sebagai Latihan Kesabaran
Selain menyucikan hati, puasa juga merupakan latihan kesabaran. Gus Syarif menjelaskan bahwa Ramadan sering disebut sebagai bulan kesabaran.
Bahkan dalam hadis disebutkan bahwa puasa adalah setengah dari kesabaran.
Artinya, orang yang menjalankan puasa sebenarnya sedang melatih diri untuk mengendalikan hawa nafsu dan memperkuat kesabaran.
“Orang yang berpuasa harus siap secara lahir dan batin untuk menjalankan ibadah dengan penuh kesabaran,” jelasnya.
Tiga Bentuk Kesabaran dalam Puasa
Dalam kitab yang sama disebutkan bahwa kesabaran memiliki tiga bentuk utama.
Pertama adalah sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah. Misalnya, bersabar menjalankan puasa, salat, dan ibadah lainnya meskipun terkadang terasa berat.
Kedua adalah sabar dalam menjauhi perbuatan maksiat. Selama Ramadan, seorang muslim dituntut untuk menjaga diri dari hal-hal yang dilarang oleh Allah.
Ketiga adalah sabar dalam menghadapi takdir Allah yang tidak selalu sesuai dengan keinginan manusia.
Menariknya, ketiga bentuk kesabaran tersebut sebenarnya tercermin dalam ibadah puasa.
Orang yang berpuasa harus bersabar dalam menjalankan ibadah, menahan diri dari hal-hal yang dilarang, serta menahan rasa lapar dan haus.
Hakikat Cinta kepada Allah
Di akhir ceramahnya, Gus Syarif mengutip kisah seorang ulama bernama Dhu al-Nun al-Misri yang pernah ditanya tentang hakikat cinta kepada Allah.
Menurut ulama tersebut, seseorang akan benar-benar mencintai Allah ketika ia mampu meninggalkan sesuatu yang dibenci oleh Allah, meskipun hal itu sebenarnya ia sukai.
“Kalau sesuatu yang dibenci oleh Allah masih kita lakukan, maka cinta kita kepada-Nya belum sempurna,” kata Gus Syarif.
Baca tanpa iklan