News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Walikota Bersahaja dan Pengayom Itu Telah Berpulang

Editor: Alfred Dama
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Laurimba saat dilantik sebagai Wali Kota tahun 1967

Laporan Wartawan Tribun Medan, Liston Damanik

TRIBUNNEWS.COM, PEMATANGSIANTAR - Walikota Pematangsiantar 1967-1984, Letkol Laurimba Saragih tutup usia, Minggu (27/6/2011).  

Almarhum meninggal pada usia 84 di RS Horas Insani setelah mendapat perawatan sejak Jumat malam karena sesak nafas dan demam tinggi.

Menurut keluarganya, Laurimba Saragih memang mantan perokok berat. Ia baru berhenti merokok sekitar dua tahun yang lalu selepas umrah.

"Sebenarnya ayah menolak dibawa ke rumah sakit. Terpaksa kami bopong ke sana," kata anak ketiga, Rukmanto Saragih, Senin (27/6/2011).

Setelah isterinya, Darijah Hasvy Hutasuhut, meninggal pada tahun 2009, Laurimba tinggal bersama dengan beberapa pembantu di rumahnya yang sederhana namun asri di Jalan Medan.

Mantan pejuang kemerdekaan ini menghabiskan masa senjanya dengan menjadi Ketua Harian Legiun Veteran 45.
"Ayah tidak bisa diam. Setiap hari dia pergi ke Gedung Juang. Jam makan siang balik lagi ke rumah," kata si anak bungsu Chandra Sakti Saragih.

Laurimba Saragih lahir di Tanggabatu, Haranggaol pada 10 September 1927. Ia masuk ketentaraan pada masa penjajahan Jepang tahun 1943 dan menjadi Kepala Seksi 1 Kodim pada tahun 1965.

Ia termasuk saksi sejarah penumpasan PKI dan menjadi kepala daerah pada masa Republik Indonesia mengalami kekacauan politik dan ekonomi.

"Krisis ekonomi tahun 1998 belum seberapa gawatnya dibandingkan pada masa itu," kata Rukmanto.

Setelah tujuh tahun menjadi Wali Kota, ia aktif di Dewan Pengurus Provinsi Golkar selama tahun 1979 sampai 1984. Setelah itu, ia dipercaya menjadi Ketua DPC Golkar  Pematangsiantar.

Karir politiknya terus berlanjut setelah terpilih sebagai Ketua DPRD Pematangsiantar 1987-1992. Pada masa itulah ia menaikkan istilah "Sipangambei Manoktok Hitei" yang bisa dikatakan sebagai terjemahan bebas Bhinneka Tunggal Ika.

Menurut Rukmanto, semboyan itu sedikit banyak mengingatkannya kepada sang ayah yang selalu menerapkan apa yang telah dikatakan.

“Itu tidak hanya diucapkan saja. Tapi dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari,” katanya. Tidak hanya tentang penghormatan terhadap keberagaman,
pelajaran-pelajaran hidup dari Laurimba dipelajari orang-orang terdekatnya dengan mengamati perilaku hidup almarhum yang selaras dengan perkataannya.

Mantan Wali Kota Pematangsiantar, Marim Purba bercerita tentang sosok Laurimba Saragih yang selama ini jadi panutannya.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini