News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Lava Merapi Ambrol, Warga Berhamburan Keluar Rumah

Editor: Anwar Sadat Guna
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Puncak tertinggi gunung Merapi pascaerupsi 2010. Titik elevasi tertinggi itu sesuai data GPS per 8 Maret 2011 ada di level 2.930 meter di atas permukaan laut (mdpl). Ujung tertinggi itu merupakan bagian kubah lava hasil erupsi 1911 yang ujung lidahnya mengarah ke barat laut puncak. (SURATNO UNTUK TRIBUN JOGJA)

TRIBUNNEWS.COM, KLATEN - Warga di lerang Tenggara dan Timur Gunung Merapi, Minggu (15/7/2012) sekitar pukul 18.00, panik.

Di tengah suasana desa yang tenang, tiba-tiba mereka dikejutkan suara gemuruh disusul hujan abu.

Warga pun berhamburan keluar rumah dan berlarian karena menduga Merapi meletus.

Relawan Induk Merapi, Agus, mengaku mendengar suara gemuruh sekitar lima menit. "Karena panasaran, saya keluar rumah untuk melihat puncak Merapi, dan ternyata ada asap yang membumbung," ucapnya.

Di tengah-tengah aktivitas Agus mengamati puncak Merapi, ratusan warga berhamburan keluar rumah dan mendatangi Posko Balerante. "Warga berdatangan ke kami untuk memastikan yang terjadi," kata Agus.

Saat itu, lanjut Agus, sejumlah warga mengaku khawatir Merapi meletus. Meski mereka juga tidak yakin hal itu terjadi, karena sebelumnya tidak ada pemberitahuan tentang peningkatan aktivitas vulkanis.

Untuk memastikannya, Agus pun berkoordinasi dengan petugas Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK). Hasilnya, dipastikan tidak ada letusan Merapi. "Kami kemudian menjelaskan ke warga," kata Agus.

Berdasarakan informasi BPPTK, kata Agus pada warga, saat itu hanya terjadi guguran lava yang menumpuk di lereng Merapi, akibat letusan 2010 lalu.

"Setelah kami memberi penjelasan, warga bisa mengerti. Apalagi, saat itu debu dan suara gemuruh sudah tidak ada lagi," jelas Agus.

Lurah Balerante, Sukono, mengaku mendengar suara gemuruh. Namun tidak menyangka jika sumber suara itu berasal dari Merapi. Dia dan beberapa warga lainnya pun santai saja menikmati alunan rebana yang ditabuh beberapa warga dalam acara pengajian.

"Tadi memang ada suara gemuruh, tetapi tidak tahu kalau suara itu dari Merapi. Suara tersebut bercampur suara rebana masjid. Jadi, ya tidak panik. Namun, kami baru menyadarinya setelah ada asap dan warga yang memberi tahu," jelas Sukono.

Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten, Joko Rukminto, mengatakan, beberapa warga di kawasan Balerante memang sempat panik dan mencoba memastikan yang terjadi di Merapi.

Karena itu, sejak sekitar pukul 18.15 hingga pukul 20.00, telepon di kantornya tak berhenti berdering. Joko pun harus menjelaskan secara sabar pada para penelpon, bahwa Merapi tidak meletus.

Kepada para penelepon, Joko menjelaskan, Merapi tidak meletus. Namun, dinding kawah sempat runtuh dan masuk ke dalam kawah sehingga menimbulkan debu dan suara bergemuruh.

"Sekitar dua jam telepon terus berdering dan saya terus menjelaskan," kata Joko.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini