TRIBUNNEWS.COM, PALEMBANG - Taufiq Kiemas dikenal sebagai tokoh konsiliator. Ia mampu menjadi penghubung antarpartai, antargolongan, antarkelompok. Tokoh pendamai untuk berbagai konflik di tanah air. Tidak terkecuali tentunya untuk Sumatera Selatan. Menjelang pemilihan kepala daerah gubernur Sumatera Selatan periode 2013-2018, Taufiq Kiemas menunjukkan perannya itu.
"Kamu semua adik-adikku. Bangun Sumsel dengan budaya. Jangan sampai ribut," pesan almarhun Taufiq Kiemas kepada keempat kandidat Gubernur Sumatera Selatan ketika dikumpulkan di Jakarta sebelum memasuki masa kampanye belum lama ini.
Kisah pertemuan empat calon orang nomor satu di Sumsel itu dituturkan oleh staf ahli Ketua MPR RI DR Marwah M Diah kepada Tribun Sumsel, Senin (10/6/2013) melalui sambungam telepon.
Setelah seharian disibukkan mengurus prosesi pemakaman almarhum, Minggu (9/6/2013) teman akrab TK semasa sekolah ini baru memiliki waktu luang mengisahkan cerita itu keesokan harinya (Senin,red).
Taufiq Kiemas selain seorang negarawan, dan Ketua MPR RI, juga telah lama dikenal sebagai tokoh masyarakat Sumatera Selatan. Kendati tokoh partai PDI Perjuangan, nasihatnya selalu menjadi rujukan seluruh kader partai di Sumsel, tidak terkecuali bagi calon kepala daerah yang hendak bertarung dalam pesta demokrasi.
"Keempatnya (kandidat gubernur,red) datang kepada almarhum secara bersama, bukan diundang. Mereka bertemu dan berbicara mengenai pemilukada Sumsel, karena memang bapak sudah menjadi tokoh masyarakat Sumsel yang menjadi panutan, dan dituakan," ujar DR Marwah mengisahkan pertemuan tersebut.
Selain berbincang mengenai perhelatan pesta rakyat Sumsel, mereka juga dijamu makan malam oleh suami Presiden kelima RI ini. Suasana santai ketika itu terbangun dalam balutan diskusi. Pesan terpenting yang dititipkan kepada keempat kandidat gubernur hanya unutk bersikap dewasa dalam persaingan politik.
"Mungkin beliau kecewa jika sekarang Sumsel seperti ini (keributan pasca pemungutan suara,red)," kenangnya.
Keempat kandidat pada kesempatan itu terlihat akrab satu sama lain. Mereka bahkan makan bersama dan berfoto bersama dengan negarawan pencetus nilai-nilai empat pilar negara (UUD 45, Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI) ini.
"Semuanya akrab, mereka makan bersama, berfoto bersama juga dengan bapak. Di tatanan elit pimpinan partai akrab seluruhnya. Tetapi kita tidak tahu di level bawah situasinya seperti apa," ujar suami motivator Sarfilianty Anggiani itu.
Sikap menerima dan memberi masukan kepada seluruh golongan tanpa membedakan asal partai menunjukkan pribadi almarhum Taufiq Kiemas sebagai pengayom, lintas partai, dan lintas agama. Seluruh kandidat yang berasal dari berbagai partai yang tidak sama dengan partainya, PDI Perjuangan diterima dengan tangan terbuka untuk berdiskusi dan saling tukar pikiran.
Pesannya untuk membangun Sumsel dengan budaya mencerminkan sikap yang anti dendam, dan pemersatu yang melekat pada jiwa almarhum.
"Almarhum itu kakaknya partai, tokoh lintas partai, lintas agama, pemersatu. Coba lihat yang datang itu misalnya, pak Alex yang partainya berbeda dengnan beliau, tapi tetap diayomi," ulasnya.
Selain jiwa pemersatu, inisiator pertemuan reguler Ketua Lembaga Negara ini juga dikenal sebagai individu yang pemurah. Sifat ini telah menjadi sifat yang diturunkan oleh almarhum ayahandanya, Mayor Tjik Agus Kiemas seorang tokoh Masyumi di masanya.
Rekan, teman sekolah Taufiq yang mampir ke rumahnya di Palembang ketika itu pasti akan disuguhi makan. Ketika masuk waktu makan, mereka tidak diperbolehkan pulang sebelum makan bersama di rumahnya.
"Sifat murah hati beliau ini memang sudah sejak lama melekat, sama seperti almarhum ayah beliau yang juga pemurah. Saya ingat betul ketika SMA bermain ke rumahnya, almarhum pak Tjik Agus tidak akan membiarkan kami meninggalkan rumah kalau belum makan ketika waktu makan tiba," kenangnya mengingat memori masa lalunya bersama rekan semasa sekolah dulu.
Sifat ini masih melekat hingga akhir hayat almarhum. Hampir seluruh rekan yang mengenalnya mendapat pemberian (oleh-oleh,red) darinya. Sebut saja mulai dari mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD yang diberi sebuah jam tangan eksklusif yang kemudian diberikan mahfud se KPK sebagai barang grativikasi yang akhirnya dilelang oleh KPK.
Hal serupa juga terjadi pada Gubernur Sumsel Alex Noerdin yang mendapat sebuah jaket kulit dari bapak empat pilar negara ini. Kejadian ini berawal ketika Alex Noerdin memuji jaket yang dikenakan Taufiq Kiemas yang kemudian secara spontan langsung mengiriminya sebuah jaket yang sama di lain kesempatan.
"Kamu galak, kagek aku kirimi," tutur DR Marwah menirukan ucapan Taufiq Kiemas kepada Alex Noerdin ketika itu.
Sifatnya ini menujukkan karakter dermawannya. Pemberiannya tidak disertai embel-embel apapun, terlebih menyekat hubungan atas dasar ideologi partai.
"Kalau memberi tangan kanan, tangan kiri tidak tahu. Beliau memberi tanpa tedeng aling-aling, tidak ada sekat-sekat partai. Coba ingat ketika SEA Games lalu di Palembang, beliau back up penuh Alex Noerdin, padahal mereka berbeda partai. Dia tunjukkan kalau sesama masyarakat Sumsel bisa saling membantu, ditunjukkan kalau ia sesepuh masyarakat sumsel," ungkap sahabat TK ini menjelaskan makna yang tersirat dari sikap kedermawanan sang negarawan.