TRIBUNNEWS.COM, BANTUL - Ketiga saksi pegawai Lapas Kelas IIB Cebongan Sleman, Margo Utomo selaku Kepala Keamanan Lapas, Indrawan Tri Widayanto penjaga pintu Lapas, dan Supratiknyo mengaku tidak mampu mengenali wajah tiga terdakwa Serda Ucok Tigor Simbolon, Serda Sugeng Sumaryanto, dan Kopral Satu Kodik.
Dalam persidangan saksi-saksi baru bertemu para terdakwa pada sidang digelar di Pengadilan Militer II/11 Yogyakarta, Selasa (2/7/2013). Ucok, Sugeng, dan Kodik didakwa sebagai pelaku utama penyerangan Lapas Cebongan pada Sabtu dinihari 23 Maret 2013.
Ucok yang memiliki brevet mahir menembak (hirbak) dalam dakwaan disebut sebagai eksekutor tunggal yang menembak empat tahanan titipan Polda DIY. Ia pula yang membuka sebonya saat masuk Lapas sehingga terlihat wajahnya saat bertemu Margo, Tri, dan Pratiknyo di ruang portir.
Ketua Majelis Hakim Letkol CHK Joko Sasmito berulangkali bertanya pada ketiga saksi apakah ada yang mengenali wajah ketiga terdakwa. Namun ketiganya mengaku tidak ada yang mampu mengenali.
Orang pertama yang melihat wajah Ucok adalah saksi Tri Widayanto, yang membuka jendela pintu portir sekaligus kemudian membuka pintu masuk pertama ke kompleks Lapas itu.
Tri Widayanto mendengar ada suara mobil berhenti di depan Lapas. Ia kemudian mengintip melalui jendela pintu portir. Saksi ini mengaku melihat beberapa pelaku melompat pagar kemudian berjalan menuju pintu portir.
"Mereka mengetuk pintu dan mengaku dari Polda dan menunjukkan surat yang berlogo Tribrata. Ada juga satu orang yang wajahnya tidak tertutup," kata laki-laki kelahiran tahun 1982 ini.
Ia kemudian memberitahu beberapa rekan dan atasannya yaitu Supratiknyo ada petugas dari Polda ingin mengambil sidik jari tahanan titipan Polda yang dikirim pagi sebelumnya. Ia kemudian membuka pintu portir.
Saat beberapa pelaku masuk, mereka kemudian mencari Supratiknyo untuk meminta dibukakan pintu berikutnya. Namun Supratiknyo menyampaikan yang membawa kunci adalah Kepala Keamanan Lapas yaitu Margo Utomo.
Pratiknyo sempat melihat ada seorang pelaku yang menutup kepala hanya sampai dahi. Ia kemudian diminta mengantarkan pelaku menuju rumah Margo Utomo yang hanya berjarak sekitar 30 meter dari Lapas.
Sementara Margo Utomo, saat ditanya Majlis Hakim apakah ada yang ia kenali dari tiga terdakwa tersebut, Margo menggelengkan kepala dan menjawab tidak ada yang ia kenali.
Melihat keterangan saksi terkait wajah pelaku tidak ada yang mengenali, Ketua Majelis Hakim mengatakan hal itu dapat dimaklumi, karena suasana saat itu sedang panik."Ya dimaklumi mungkin saat itu suasana sedang panik, dan saat itu pelaku memakai baju dengan senjata laras panjang. Sedangkan sekarang mungkin suasana berbeda dan bajunya juga beda," kata Joko Sasmito.