Terhadap permintaan keluarga tersebut, pihak lapas tidak mengizinkan Along ke luar hanya untuk berziarah ke kuburan.
Selanjutnya, Along pun berlari-lari di dalam Lapas sambil berteriak bahwa dia tak diizinkan ke luar untuk berobat, sambil sesekali menggedor pintu penjagaan utama. Akibat menggedor pintu dengan tinjunya, jari tengah tangan napi itu pun patah.
Di sisi lain, teriakan dan sikap Along itulah yang memicu emosi para napi lainnya. Mereka lalu berteriak-teriak sambil menggedor pintu-pintu kamar lapas sambil terus ke luar ke halaman bagian dalam lapas.
Kondisi ini membuat sejumlah sipir yang berada di dalam kantor dan pos penjagaan utama harus berlarian ke luar lapas. Selanjutnya, para napi terus mengamuk dengan melemparkan batu dan kayu. (bah/ib)
Baca tanpa iklan