TRIBUN (T): Sekarang Esemka sudah mulai produksi. Apa pesan dan tanggapan Bapak atas “kegaduhan” yang masih terus saja terjadi?
SUKIYAT (S): Saya pesan pada masyarakat, ndak usah negative thinking. Saya dulu bikin kucing, mereka bisa buat singa. Teruskan! Mobil Esemka memiliki sejarah yang panjang dalam pembuatannya sejak dimunculkan oleh inisiator.
Suku cadang mudah, ada itu disiapkan, dan pengalaman mereka yang di dalam saya tahu. Presiden membackup, mobil siap, infrastruktur siap.
TRIBUN (T): Menurut Bapak, bagaimana produk mobil PT SMK ini?
SUKIYAT (S): Saya lihat bagus. Dukungan komponen mudah, harga ada yang di bawah 100 (juta) seperti pernah saya minta. Suara mesin halus, bagus.
TRIBUN (T): Terkait PT SMK yang sekarang memproduksi mobil Esemka, apa posisi Bapak di sana?
SUKIYAT (S): Tidak, saya tidak ikut campur, sama sekali tidak. Itu tadi, saya ini inovator, inisiator. Setelah ada innovator, ada barang, ada yang tertarik beli, ada produksi, dan begitu proses bisnis. Saya tidak kenal dengan para pengelola PT SMK. Secara cerita kan juga panjang.
Sesudah dulu muncul kan terjadi polemik. Begitu muncul, masing-masing mengklaim, aku, aku, aku. Saya punya dan memegang tiga prinsip “nga” (Jawa). Ngalah (mengalah), ngalih (beralih), ngamuk. Tapi saya tidak ngamuk. Sudah cukup.
Nggak terlalu “kemronggo” harus dapat uang banyak. Saya sudah cukup. Karena itu mohon bangsa Indonesia latihan menghargai penemu. Orang Indonesia itu pandai-pandai, tapi sayangnya yang pandai nggak mau muncul. Mereka akhirnya di luar negeri, jadi jongos.
Andai saya nggak cacat, mungkin saya juga ke luar negeri, jadi jongos. Iya lhooo…Lha di sini muncul dikuyo-kuyo (disia-siakan). Ngapain gitu loh. Kita harus latihan menghargai orang lain. Inisiator tidak begitu dihargai. Contohnya seperti dr Terawan. Sembuh lho habis dioperasi. Saya jadi muda lagi tho…hahahahaha.
TRIBUN (T): Jika tidak di PT SMK, lalu apa posisi Bapak hadir di acara peresmian?
SUKIYAT (S): Jadi kita waktu itu dihubungi Pak Jokowi. Beliau bilang, Pak Kiat saya mau meresmikan kendaraan Esemka. Saya bilang saya tidak ada undangan. Beliau menyampaikan, nggak dapat undangan, nanti bareng saya datangnya. Kita positive thinking, berpikir dewasa.
TRIBUN (T): Adakah yang khusus disampaikan Pak Presiden kepada Bapak?
SUKIYAT (S): Tidak ada yang khusus. Pak Jokowi hanya bilang, Pak Kiat inovasi apa lagi. Pak Kiat tetap harus berkarya.
TRIBUN (T): Jadi secara teknis benar-benar tidak terlibat di PT SMK?
SUKIYAT (S): Saya ada bisnis lain. (Sukiyat menyodorkan kartu nama berisi alamat perusahannya di Jakarta. Menurut Sukiyat ia menjalin kerjasama dengan raksasa semen dan seorang pengusaha papan atas penguasa industri consumer good).
Kalau tadi sebagai inisiator saya hadir. Saya berjiwa besar, saya berkenan sowan ditimbali Presiden. Saya lihat Pak Jokowinya.
Baca: Bruno Mars Timpuk Artis Jepang Pakai Handuk karena Geram Melihatnya Sibuk Foto Narsis
TRIBUN (T): Sekarang apa bisnis Bapak?
SUKIYAT (S): Saya kembangkan Amdes dan Mahesa. Produksi cepat seperti Mahesa. Saya inisiatornya, dan dinilai. Tapi saya nggak akan sebut besarnya, situ ndak kaget…hahahahahaa! (Amdes ini singkatan Alat Mekanis Multi Guna Pedesaan.
Kendaraan khusus berukuran kecil beroda kasar ini berfungsi ganda. Bisa untuk penggilingan padi, alat angkut ringan dan lain sebagainya. Dikembangkan Sukiat dengan dukungan pabrikan nasional).
TRIBUN (T): Sejumlah tokoh nasional masih terus meragukan soal Esemka, seperti yang kerap disampaikan Fadli Zon, Fahri Hamzah, Rocky Gerung. Apa komentar Bapak?
SUKIYAT (S): Pak Fahri, Pak Fadli Zon, Pak Rocky Gerung, mereka baik. Ada orang itu baik, tapi jangan kebablasan. Itu mengingatkan. Nggak apa-apa. Kita harus take and give. Mendapatkan dan memberi.
Baca: Tak Menyangka Elza Syarief Sakit Hati, Produser Hotman Paris Show: Tidak Ada Protes dari Beliau
Fadli Zon, Rocky, dan lain-lain itu bagus mengingatkan Sukiyat. Dia cerdas. Orang yang marah mendengar kata beliaunya tidak nyampai SDMnya. Dia memperingatkan, berani njewer. Harus ada yang mengingatkan. Mau negara maju, harus ada orang itu.
TRIBUN (T): Realitasnya di antara masyarakat masih banyak yang berkomentar negatif?
SUKIYAT (S): Nah, mereka yang tidak peka, ada kepentingan. Saya sama Presiden itu teman baik. Saya sekali lagi tidak minta. Prinsip saya, bukan apa yang didapat, tapi apa yang dipersembahkan. Pak Jokowi waktu 24 jam kurang. Pekerja benar dia. Indonesia itu luas, tidak mudah.
Baca: Tagar #bubarkanKPAI Trending, KPAI Beri Tanggapan Terkait Keputusan PB Djarum Hentikan Audisi
Harus kita mulai. Mari sama-sama, jangan salahkan negara. Jadi kalau Pak Jokowi disalahkan, sangat disayangkan. Salahkan Kiat! Emange orang cacat enggak boleh (bikin). Mesin, bodi, dan lain-lain saya tahu. Kalau dipikir, betul (prosesnya) terlalu panjang.
Penelitian di kampus sering juga tidak ada kelanjutannya, berhenti jadi tumpukan kertas. Jadi sekali lagi membuat mobil itu rangkaian banyak sekali. Saya sejak awal ndak berpikir negative. Saya positif, bagaimana Indonesia punya mobil sendiri. Ini sudah berani memulai inshaallah bisa besar.
Baca tanpa iklan