Hal inilah yang membuat kawah itu akhirnya diberi nama Leri atau sileri, dipaskan dengan warna air yang terlihat kotor seperti leri.
Kawah Sileri ini terletak di Desa Kepakisan atau berada di tengah perjalanan dari Kepakisan menuju pemandian air panas Bitingan.
Kawah Sileri merupakan kawah yang paling aktif dan pernah meletus beberapa kali yang sempat tercatat adalah tahun 1944, 1964, 1984, 2003, 2009, 2017.
Pada 2018 lalu, Kawah Sileri juga pernah meletus, beruntung tidak sampai menimbulkan korban jiwa kala itu.
Meski terbilang berbahaya, tapi cukup banyak orang yang datang untuk menikmati keindahan dan pesona Kawah Sileri ini.
Suasana di sekitar kawah Sileri cukup hangat karena adanya uap yang muncul dari kawah.
Uap panas ini adalah gejala-gejala aktivitas vulkanis, dan uap panas yang berwarna putih keabu-abuan yang keluar inilah yang menjadi daya tarik wisata Kawah Sileri.
Di Kawah Sileri ini tidak disarankan untuk mendekat terlalu dekat karena letupannya yang tidak terduga dan sangat berbahaya.
Baca juga: Kubah Lava Gunung Merapi di Tengah Kawah Lebih Besar, Mengarah ke Barat
Baca juga: Gempa Kekuatan 4,6 Guncang Gunungkidul Yogyakarta, Terasa hingga Bantul, Wonogiri
Banyak memakan korban
Dalam sejarahnya, erupsi Kawah Sileri ini paling banyak memakan korban.
Tercatat pada 4 Desember 1944, Kawah Sileri mengalami erupsi freatik serupa.
Dalam tragedi itu, sedikitnya 117 orang terenggut nyawanya.
Kepala Pos Pengamatan Gunung Api Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Dieng, Jawan Surip (2017) mengatakan, pernah ada satu kampung yang hilang akibat erupsi freatik Sileri.
Satu kampung bernama Desa Jawera hilang akibat saat letusan kawah Sileri pada 13 Desember 1964.