News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Banjir Bandang di Sumatera

Bencana Sumatera, Risiko ISPA Mengintai Ribuan Pengungsi, Pneumonia Jadi Ancaman Mematikan

Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Eko Sutriyanto
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

RISIKO KEMATIAN - Dokter, epidemiolog, dan peneliti keamanan dan ketahanan kesehatan global Dicky Budiman, menegaskan bahwa risiko penyakit menular lewat udara seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan pneumonia dalam situasi bencana di Sumatera bisa menjadi penyebab kematian tertinggi, terutama pada kelompok rentan

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Ribuan warga Aceh dan Sumatera Barat terpaksa tinggal di tenda pengungsian setelah banjir dan longsor.

Kondisi ini meningkatnya kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan pneumonia.

Kondisi tenda yang padat, minim ventilasi, serta cuaca dingin dan lembap mempercepat penyebaran penyakit berbasis udara.

Dokter, epidemiolog, dan peneliti keamanan dan ketahanan kesehatan global Dicky Budiman, menegaskan bahwa risiko penyakit menular lewat udara dalam situasi bencana bisa menjadi penyebab kematian tertinggi, terutama pada kelompok rentan.

“Pengungsian padat di tenda-tenda tanpa ventilasi yang memadai itu akan memicu infeksi saluran pernafasan akut dan pneumonia. Ini yang menjadi penyebab mortalitas tertinggi pada bencana banjir,” jelasnya pada Tribunnews, Kamis (4/12/2025). 

Baca juga: Di Tenda Pengungsian, Prabowo Tegaskan Tidak akan Biarkan Masyarakat Pikul Beban Sendiri

ISPA hingga Pneumonia

Dicky mengatakan bahwa pneumonia bukan hanya disebabkan bakteri, tetapi juga diperburuk oleh penurunan daya tahan tubuh akibat kelelahan, dingin, dan makanan terbatas.

“Selain itu juga ada influenza, Covid-19 dan juga pertusis,” tambahnya.

Di Aceh Besar dan Padang Pariaman, banyak balita dan lansia mulai mengeluhkan batuk berat hingga sesak.

Minimnya ruang pribadi dan adanya droplet dari penghuni tenda lain membuat penyebaran jauh lebih cepat.

Menurut Dicky, salah satu penyebab tingginya risiko adalah kurangnya ruang per orang.

Ia menegaskan bahwa lingkungan pengungsian harus memenuhi standar ruang minimum.

“Harus dikurangi kepadatan pengungsinya. Targetnya 3,5 meter persegi per orang setidaknya,” katanya.

Namun kondisi lapangan di beberapa titik Aceh dan Sumbar masih jauh dari angka itu.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini