News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Pesawat ATR Indonesia Air Jatuh

Sidik Jari Masih Bisa Terbaca, Jenazah Pramugari Esther Aprilita Teridentifikasi

Editor: Erik S
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

PESAWAT JATUH - Tim SAR gabungan menjaga kantung jenazah  korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 di lereng pegunungan Bulusaraung Kabupaten Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan pada Jumat (23/1/2026) sebelum dievakuasi menggunakan helikopter. (HO/Humas Kantor SAR Makassar)

“Chat terakhir hari Jumat malam. Kami masih chatting. Dia bilang dia di Jogja,” ujar J Siburian.

Menurutnya, Esther saat itu sedang menjalankan tugas penerbangan. Namun keesokan harinya, komunikasi mendadak terputus dan Esther tak lagi bisa dihubungi.

Hal serupa juga dirasakan oleh sang ayah. Adi mengatakan komunikasi terakhir dengan Esther terjadi saat dirinya mengirim pesan WhatsApp pada Jumat (16/1/2026) siang.

“Saya WA jam 12 siang karena saya lagi ke Jakarta, mau jemput dia kalau mau pulang. Tapi tidak ada balasan, HP-nya sudah tidak aktif,” ungkap Adi.

Kabar hilangnya pesawat baru diterima Adi pada Sabtu sore dari pihak Indonesia Air Transport (IAT), perusahaan jasa penerbangan charter yang telah beroperasi sejak 1968.

“Kami dikabari dari perusahaan kalau pesawat yang ditumpangi Esther hilang kontak,” ujarnya.

Meski situasi penuh ketidakpastian, Adi mengaku keluarga masih menyimpan harapan.

Baca juga: Pesawat ATR 42-500 Jatuh di Maros, Orangtua Pramugari Esther Berharap Masih Ada Mukjizat

“Kami berharap masih ada mukjizat. Sampai sekarang kan belum ditemukan. Kami berharap mereka semua ditemukan dalam keadaan selamat,” katanya lirih.

Pada Senin (19/1/2026), keluarga Esther kembali mendatangi Posko Greeters Meeters Ruang Tunggu Keluarga Penumpang di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar, untuk mencari informasi terbaru terkait pencarian.

Adi datang bersama salah satu anaknya. Gurat kesedihan tampak jelas di wajahnya saat menunggu kabar sang putri sulung.

Menurut Adi, Esther terakhir kali berada dalam status standby di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, sebelum menjalankan tugas penerbangan.

“Biasanya dari Halim ke Jogja,” jelasnya.

Esther merupakan anak pertama dari tiga bersaudara dan telah berprofesi sebagai pramugari selama hampir tujuh tahun.

Di mata keluarga, Esther dikenal sebagai sosok anak yang baik dan penuh perhatian.

“Dia orangnya baik,” ucap Adi singkat.

Yang paling membekas, Adi mengungkapkan adanya pesan tak biasa dari putrinya dalam komunikasi terakhir.

“Dia sempat minta maaf kalau ada salah. Biasanya nggak begitu,” tuturnya.

Artikel ini telah tayang di Tribun-Timur.com dengan judul Sidik Jari Ungkap Identitas Esther Aprilita Pramugari Pesawat ATR 42-500

 

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini