News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Sanggar Madhangkara, Cara Ki Cahyo Kuntadi Mendekatkan Wayang ke Generasi Muda

Penulis: Falza Fuadina
Editor: Nuryanti
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

SANGGAR MADHANGKARA - Dalang Ki Cahyo Kuntadi dan Sinden Sukesi Rahayu (kiri). Pagelaran Suran Kampung Wayang Ke 3 di Sanggar Seni Madhangkara pada 10-12 Juli 2025 (kanan).

TRIBUNNEWS.COM - Di tengah arus modernisasi dan perubahan selera masyarakat, Sanggar Madhangkara hadir sebagai ruang pembelajaran sekaligus pelestarian seni pedalangan. 

Sanggar Madhangkara secara resmi didirikan oleh dalang wayang kulit, Ki Cahyo Kuntadi, pada 24 Oktober 2020.

Sanggar seni tersebut berlokasi di Desa Sawahan, Kelurahan Jaten, Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Nama Madhangkara merupakan singkatan dari Mangesthi Dharmaning Kabudayan Rahayu, yang bermakna bahwa perbuatan baik melalui kebudayaan dapat membawa manfaat dan keselamatan.

Sanggar Madhangkara lahir dari kegelisahan Cahyo Kuntadi melihat tantangan pelestarian seni tradisi di tengah perkembangan zaman. 

Menurutnya, wayang tidak cukup hanya dipertunjukkan, tetapi juga harus diwariskan melalui proses pendidikan yang berkelanjutan.

“Kenapa kok generasi sekarang enggak mau mendekat ke seni tradisi? Ternyata setelah saya belajar dan diskusi dengan teman-teman, seharusnya senimannya yang mendekatkan wayang ke generasi sekarang. Jangan generasi sekarang dipaksa untuk mendekat, namun kita dekatkan dengan cara membuat sanggar ini,” jelas Cahyo, saat diwawancarai Tribunnews di Sanggar Madhangkara, Kamis (8/1/2026).

Di sanggar ini, pembelajaran pedalangan tidak hanya berfokus pada kemampuan teknis mendalang. 

Tetapi sanggar ini turut menghadirkan kelas karawitan, tari, sinden, dan bahasa Jawa.

Upaya Cahyo dalam mengembangkan sanggar mendapat dukungan dari masyarakat sekitar, hingga jumlah muridnya kini mencapai lebih dari 100 orang.

Suami dari sinden kondang Sukesi Rahayu ini menjelaskan dalam pengelolaan sanggar seni tersebut tidak ia lakukan sendiri.

Baca juga: Cerita Ki Cahyo Kuntadi, Dalang Asal Jawa Tengah yang Berupaya Jaga Kelestarian Wayang Kulit

“Jadi sanggar Madhangkara itu ada dua cabang. Yang pertama tentang pementasan di luar untuk bisa memenuhi kebutuhan di sanggar ini itu yang mengelola saya dan istri. Yang sekolahan sudah melibatkan warga, saya yang meminta warga untuk bergabung,” tutur Cahyo.

Adapun para pengajar di Sanggar Madhangkara merupakan dosen dan akademisi dari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.

Cahyo menekankan bahwa pembentukan karakter menjadi pondasi utama sebelum penguasaan keterampilan. 

Sanggar Madhangkara yang terletak di Desa Sawahan, Kelurahan Jaten, Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Foto ini diambil pada Kamis (8/1/2026).

Nilai-nilai moral, tata krama, serta etika kehidupan menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran para siswa.

“Skill itu nomor dua. Yang utama adalah karakter,” tegas Cahyo.

Melalui tokoh-tokoh wayang, para siswa diajak memahami dan meneladani nilai-nilai kehidupan. 

Tokoh Arjuna, misalnya, dijadikan contoh karakter kesatria yang jujur, rendah hati, bijaksana, dan suka menolong. 

Nilai-nilai tersebut diharapkan tidak hanya dipahami di atas panggung, tetapi juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sanggar Madhangkara terbuka bagi berbagai kalangan usia. Pesertanya berasal dari anak sekolah dasar hingga mahasiswa. 

Bahkan, dalam satu periode pendaftaran, jumlah siswa yang mendaftar bisa mencapai puluhan orang. 

Hal ini menjadi bukti bahwa seni wayang masih memiliki tempat di hati generasi muda.

Selain menjadi ruang belajar, Sanggar Madhangkara juga berfungsi sebagai laboratorium kreativitas. 

Di sinilah berbagai inovasi dalam pementasan wayang dirancang, tanpa meninggalkan pakem dan nilai moral yang menjadi ruh utama seni pedalangan. 

Penggunaan bahasa Indonesia dalam pementasan tertentu, penyajian ringkasan cerita, hingga pemanfaatan media digital menjadi bagian dari strategi agar wayang lebih mudah dipahami oleh penonton awam.

Tak hanya itu, Sanggar Madhangkara juga aktif menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi. 

Pertunjukan wayang tidak lagi terbatas pada panggung konvensional, tetapi juga disiarkan melalui platform digital seperti YouTube dan TikTok. 

Langkah ini dilakukan agar wayang dapat menjangkau audiens yang lebih luas, terutama generasi muda.

Meski terbuka terhadap inovasi, Cahyo menegaskan bahwa setiap pembaruan harus tetap berpegang pada pakem. 

Menurutnya, pakem bukanlah batas kreativitas, melainkan rambu agar seni wayang tidak kehilangan jati diri.

Bagi dalang yang juga berprofesi sebagai Dosen Pedalangan di ISI Surakarta ini, keberadaan Sanggar Madhangkara bukan hanya tentang melahirkan dalang-dalang baru. 

Lebih dari itu, sanggar ini menjadi wadah untuk menanamkan nilai kehidupan, menjaga warisan budaya leluhur, sekaligus membentuk generasi yang berkarakter.

Di tengah gempuran budaya populer dan hiburan instan, Sanggar Madhangkara berdiri sebagai pengingat bahwa seni tradisi masih relevan. 

Selama nilai-nilai moral terus dijaga dan diwariskan, wayang akan tetap hidup dan bermakna bagi generasi masa depan.

Belum Mendapat Apresiasi dari Pemerintah Setempat

Hingga kini, Cahyo mengaku bahwa sanggar Madhangkara belum mendapat dukungan dari pemerintahan setempat.

Padahal, Desa Sawahan tersebut telah ditetapkan sebagai Kampung Wayang oleh mantan Bupati Karanganyar, Juliyatmono.

“Pelestarian budaya ini membutuhkan peran masyarakat, pejabat, dan senimannya. Jadi (pemerintah) belum,” tegas Cahyo.

“Waktu dijadikan Kampung Wayang cuma dikasih SK (Surat Keputusan) saja, ketika beliau (Juliyatmono) sudah tidak menjabat ya tidak ada apa-apa,” lanjut Cahyo. 

Walaupun dikelola secara mandiri, Cahyo mengaku sanggarnya turut mendapat bantuan dari anggota DPRD setempat.

“Ya ada satu dua peran dari pemerintah atau anggota dewan yang memberikan support. Itu saja kita harus mendekat, melobi, supaya mereka mau membantu,” terang Cahyo.

Ia berharap kedepannya sanggar ini bisa mendapatkan apresiasi dari pemerintah desa maupun pemerintah kabupaten.

(Tribunnews.com/Falza)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini