Menurut Sugiarto, sebelum terjun dalam pencarian Yazid, tim terlebih dulu melakukan perencanaan dan pengolahan data terkait sosok korban.
Berdasarkan data yang telah diolah, pihaknya menduga posisi Yazid berada jauh dari pendakian resmi Bukit Mongkrang.
Kemudian, Sugiarto dan tim melakukan penentuan area lokasi pencarian Yazid. Yang mana lokasi itu tidak pernah disisir oleh tim SAR sebelumnya.
"Kita coba analisa, satu data subjek yaitu orang ini siapa, tujuannya ngapain, usianya berapa, kejadiannya kapan, fisik anak ini bagaimana. Ini yang jadi dasar olah data."
"Sehingga karena anak ini atlet, badannya sehat, kejadiannya (hilangnya Yazid) itu masih relatif pagi, kemungkinan kan prediksi kita itu (perjalanan) yang dilakukan jauh."
"Lalu kita aplikasikan ke peta topografi, baru kita menentukan area pencarian atau search area," tuturnya.
Sugiarto menduga, Yazid hilang karena memotong jalur pendakian di Bukit Mongkrang.
Dia juga menduga Yazid berlari saat menuruni Bukit Mongkrang bersama tiga rekannya.
Hal itu dilakukan Yazid diduga untuk mendahului rekannya dalam rangka memberikan kejutan.
"Karena anak ini beberapa kali lari di tempat itu, ini semacam punya keinginan membuat surprise kalau dipotong (jalur pendakian) ini pasti akan nyampe di depan rekannya atau sampai di base camp terlebih dahulu. Ini asumsi kita, ya," kata Sugiarto.
Namun, kata Sugiarto, Yazid diduga justru tersesat di pipa aliran air warga. Ia kemudian mencari jalan lain.
Hanya saja, akibat hujan, korban diduga panik dan justru semakin menjauh dari jalur resmi pendakian Bukit Mongkrang.
Hal itu, lanjut Sugiarto, mengakibatkan Yazid terperosok dan berujung meninggal dunia.
"Dia tidak menyusuri sungai atau apa. Itu yang kami lihat di lokasi seperti itu," jelasnya.
(Tribunnews.com/Nanda Lusiana/Yohanes Liestyo)
Baca tanpa iklan