TRIBUNNEWS.COM - Matahari mulai meninggi, Jumat (13/2/2026) lalu.
Nafi bersama rekan-rekannya dari Surabaya, Jawa Timur, baru saja menuntaskan larinya di kawasan Stadion Manahan Solo, Jawa Tengah.
Keringatnya masih belum kering, napasnya masih terengah, Nafi dan teman-temannya langsung menuju warung sate kambing.
Nafi dan lima temannya sengaja datang jauh-jauh dari Surabaya ke Solo untuk agenda kuliner.
Ia mengaku olahraga terlebih dahulu sebelum menyantap aneka olahan daging kambing supaya tidak merasa bersalah.
"Memang pengen sarapan sate, makanya olahraga dulu biar nggak merasa bersalah," kata Nafi.
Makanan yang ringan biasanya disantap oleh sebagian orang setelah olahraga.
Tapi bagi Nafi, olahraga justru menjadi pembuka jalan menuju tengkleng, sate buntel, sate kambing, hingga jeroan.
"Balas dendam," ujar Nafi sambil tertawa.
"Jadi pas makan nggak merasa bersalah," lanjutnya.
Dari Ritual ke Warung Pagi hari
Seorang profesor filologi Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Bani Sudardi, mengatakan kuliner kambing ternyata sudah dikenal di Nusantara sejak abad ke-7, bahkan tergambar pada relief Candi Borobudur.
Namun, dalam tradisi Jawa lama, kambing bukanlah makanan harian.
"Daging dulu adalah keistimewaan. Biasanya untuk pesta, upacara, atau perayaan tertentu," jelasnya.
Aneka masakan kambing baru berkembang sekitar abad ke-19 hingga abad ke-20, dengan pusat awal di wilayah Boyolali dan sekitarnya.
Ia menceritakan awalnya olahan daging kambing dijual dengan dipikul keliling.
Baca tanpa iklan