Bunyi wajan yang dipukul "tong tong, seng seng" diyakini jadi awal mula menu masakan tongseng.
Seiring waktu, Solo tumbuh jadi kota metropolitan tradisional, pusat pemerintahan Jawa, dan ruang pertemuan berbagai budaya.
Dari situ, kuliner berkembang tanpa sekat yang ketat.
Olahan kambing pun naik kelas, yang awalnya ritual menjadi identitas kota.
Jauh sebelum dijual, daging-daging besar seperti domba, kambing, sapi, hingga kerbau dan unta hanya disantap di saat perayaan-perayaan saja.
Namun, kini hidangan tersebut sudah bisa dinikmati oleh semua kalangan, bahkan untuk sarapan.
(Tribunnews.com, Muhammad Renald Shiftanto)
Baca tanpa iklan