TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara resmi mengakhiri peringatan dini tsunami akibat gempa magnitudo 7,6 di wilayah Maluku Utara dan Sulawesi Utara, Kamis (2/4/2026) pukul 09.56 WIB.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan keputusan tersebut diambil setelah hasil pemantauan menunjukkan tidak ada lagi kenaikan muka air laut yang signifikan dan membahayakan di wilayah terdampak.
"Dengan memperhatikan kondisi terkini, tidak ada lagi kenaikan muka air laut signifikan, maka peringatan dini tsunami dinyatakan berakhir pada pukul 09.56 WIB," ujar Faisal dalam konferensi pers daring, Kamis (2/4/2026).
Pengakhiran peringatan dini tsunami, kata Faisal, merupakan bagian penting dalam prosedur operasi standar (SOP) BMKG.
Faisal mengatakan dengan berakhirnya status tersebut, tim penyelamat seperti BPBD dan SAR dapat mulai masuk ke wilayah terdampak untuk melakukan evakuasi, asesmen kerusakan, serta penanganan lanjutan.
Selama periode pemantauan, tsunami terdeteksi di sejumlah titik dengan ketinggian bervariasi.
Baca juga: Setelah Gempa Bitung, Status Siaga dan Waspada Tsunami Akan Dicabut, BMKG: Warga Tak Perlu Panik
Di Halmahera Barat tercatat setinggi 0,3 meter, kemudian di Bitung 0,2 meter, serta di Minahasa Utara mencapai 0,75 meter.
Selain itu, gelombang juga terpantau di beberapa lokasi lain seperti Sidangoli, Tagulandang, Belang, hingga Bumbulan dengan tinggi antara 0,13 hingga 0,68 meter.
BMKG juga mencatat peningkatan aktivitas gempa susulan. Hingga pukul 09.50 WIB, tercatat sebanyak 48 gempa susulan (aftershock) dengan magnitudo berkisar antara 3 hingga 5,5, dan dua di antaranya dirasakan oleh masyarakat
Meski peringatan dini telah berakhir, BMKG menegaskan akan terus memantau perkembangan aktivitas gempa di wilayah tersebut dan berkoordinasi dengan pemerintah daerah serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
"BMKG terus melakukan monitoring dan berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk BNPB yang saat ini dalam perjalanan menuju lokasi terdampak," kata Faisal.
BMKG juga mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi gempa susulan dan memastikan informasi yang diterima hanya berasal dari kanal resmi BMKG guna menghindari hoaks dan kepanikan.
PTWC Peringatkan Malaysia dan Filipina
Sebelumnya, Pacific Tsunami Warning Center (PTWC) yang berbasis di Hawaii juga mengeluarkan peringatan dini, menyebut potensi gelombang berbahaya dalam radius hingga 1.000 kilometer dari pusat gempa.
Wilayah yang masuk dalam cakupan peringatan meliputi pesisir Indonesia, Filipina, hingga Malaysia.
Dalam fase awal pascagempa, data lapangan menunjukkan adanya kenaikan permukaan air laut di sejumlah titik.
Baca tanpa iklan