“Naiknya jauh sekali. Dulu masih belasan ribu, sekarang hampir Rp20 ribu. Kalau begini, penghasilan bisa tergerus,” ujarnya.
Ia menyebut, kenaikan BBM bukan hanya berdampak pada biaya bahan bakar, tetapi juga berpotensi menurunkan pendapatan karena tarif layanan sulit ikut naik secepat itu.
Senada dengan itu, Rina (29), karyawan swasta, menilai lonjakan harga BBM akan memicu kenaikan harga kebutuhan pokok.
“Biasanya kalau BBM naik, harga makanan, ongkos kirim, sampai transportasi ikut naik. Ujung-ujungnya kami yang harus menanggung,” katanya.
Beralih ke BBM Lebih Murah
Sebagian warga mulai mempertimbangkan alternatif untuk menekan pengeluaran.
Andi (41), sopir logistik, mengaku kemungkinan akan beralih ke BBM yang lebih terjangkau.
“Kalau tetap pakai Dex, biaya operasional bisa membengkak. Mau tidak mau harus cari yang lebih murah, walaupun antreannya biasanya panjang,” ungkapnya.
Namun, keputusan tersebut juga tidak sepenuhnya mudah karena berpotensi memicu peningkatan antrean di SPBU untuk BBM subsidi.
Di sisi lain, kekhawatiran juga muncul dari masyarakat terkait kemungkinan kenaikan BBM subsidi dalam waktu dekat.
Siti (38), ibu rumah tangga, menilai pola kenaikan BBM nonsubsidi kerap menjadi sinyal awal perubahan harga yang lebih luas.
“Kami takut ini baru awal. Biasanya kalau nonsubsidi naik dulu, nanti yang subsidi ikut menyusul,” ujarnya. (Tribun Kaltim/Zainul) (Tribun Jateng)
Artikel ini telah tayang di TribunJateng.com dengan judul Naik Mulai Sabtu 18 April 2026, Berikut Daftar Harga BBM Terbaru di Jateng dan Harga BBM Nonsubsidi di Balikpapan Naik Tajam, Warga Kaget dan Keluhkan Dampak
Baca tanpa iklan