Akhirnya keluarga dokter Myta berinisiatif membawa Myta ke RSUD Raden Mattaher.
Hasil pemeriksaan medis diketahui bahwa kondisi Myta sudah parah. Ia rupanya menderita penyakit TBC yang membuatnya kerap batuk dan sesak.
Pihak keluarga lalu membawa Myta berobat ke Palembang.
Di RS Mohammad Hoesin, Palembang, pada 27 April 2026, kondisi Myta makin parah. Ia pun dirawat intensif di ruang ICU. Namun, kondisi Myta semakin memburuk hingga ia akhirnya meninggal pada 1 Mei.
Klarifikasi pihak RSUD KH Daud Arif
RSUD Kh Daut Arif Kuala Tungkal dikabarkan telah melakukan rapat tertutup membahas peristiwa dr Myta Aprilia Azmy.
Direktur RSUD KH Daud Arif Kuala Tungkal Sahala Simatupang ketika dikonfirmasi membantah tuduhan itu.
"Kalau di-bully itu tidak benar, saya sudah panggil dokter tadi, komite medik sudah sayo panggil, semua saya panggil, kalau di bully tidak ado,"ujarnya Sabtu (2/5/2026).
Sahala Simatupang mengatakan sudah memanggil dokter yang sering berkomunikasi dengan korban dan mengatakan Myta memang sakit.
Baca juga: Dokter Internship RSUD di Jambi Meninggal, IKA FK Unsri Sebut Korban Dipaksa Masuk Saat Sesak Napas
Informasi yang diterima dr Myta Aprilia Azmy ini sudah lama mengidap sakit batuk disertai dengan sesak napas, namun Direktur tidak bisa menjelaskan lebih rinci penyakit yang diderita.
"Sudah lamo sakitnya, dia itu masuk rumah sakit 11 Maret," jelasnya.
Ia menjelaskan pada Senin tim dari Kemenkes RI turun ke Kuala Tungkal untuk mengklafikasi.
"Tadi saya di telpon dari Kemenkes, hari senin mereka mau kesini, nanti biar mereka yang menjelaskan, hari Senin ya bang, sekaligus kita konferensi pers," katanya.
Ia meminta bersabar menunggu klarifikasi hari Senin yang disampaikan Kemenkes di RSUD Kh Daut Arif Kuala Tungkal.
Sikap Keluarga
Keluarga besar dokter Myta menyerahkan sepenuhnya hasil investigasi kepada Kementerian Kesehatan terkait penyebab kematian almarhumah.
Hal ini disampaikan paman almarhumah, dr Febri, saat podcast bersama Tribunsumsel.com dan Sripoku.com, Sabtu (2/5/2026).
Baca tanpa iklan