News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Jual Motor dan Hindari Cicilan, Pemuda di Lampung Ngaku Jadi Korban Begal

Editor: Erik S
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

ILUSTRASI BEGAL- Seorang pemuda berinisial MRP (21) nekat mengaku sebagai TNI Angkatan Laut (AL) dan menjadi korban begal.

TRIBUNNEWS.COM, LAMPUNG- Seorang pemuda berinisial MRP (21) nekat mengaku sebagai TNI Angkatan Laut (AL) dan menjadi korban begal.

MRP mengungkap sepeda motor yang disebut dirampas tiga pelaku bersenjata. Sebenarnya, motor itu telah dijual sendiri oleh pemiliknya.

MRP mendatangi ke SPKT Polresta Bandar Lampung bersama seorang perempuan pada Kamis (14/5) siang. Ia mengaku menjadi korban begal di kawasan PJR Panjang.

Dalam laporannya, MRP menyebut dirinya disergap tiga orang tak dikenal yang membawa senjata tajam dan senjata api. Untuk memperkuat ceritanya, ia bahkan mengaku sebagai anggota TNI AL.

Namun polisi menemukan sejumlah kejanggalan saat melakukan penyelidikan. Setelah dicek ke pihak TNI AL, identitas pelaku ternyata bukan prajurit aktif.

“Pelaku ini mengaku sebagai anggota TNI AL. Petugas kemudian melakukan pengecekan ke lokasi serta berkoordinasi dengan TNI AL di Lampung guna memastikan identitas pelaku,” ujar Kasat Reskrim Polresta Bandar Lampung, Gigih Andriansyah, Sabtu (16/5/2026).

Dari pemeriksaan polisi, kebohongan itu akhirnya runtuh. MRP mengaku sengaja merekayasa cerita pembegalan karena terlilit masalah ekonomi setelah tidak lagi bekerja sebagai petugas keamanan.

Motor yang baru satu bulan dicicil itu dijual untuk memenuhi kebutuhan hidup sekaligus agar terbebas dari kewajiban membayar angsuran kendaraan.

Dalam laporannya ke polisi, MRP sempat menggambarkan dirinya sebagai korban kekerasan jalanan.

Ia mengaku diadang tiga orang tak dikenal yang membawa senjata tajam dan senjata api sebelum motornya dibawa kabur.

Baca juga: Polda Metro Jaya Bentuk Tim Pemburu Begal Tumpas Aksi Kejahatan Jalanan 24 Jam

Cerita itu sempat membuat polisi bergerak melakukan pengecekan lapangan.

Namun, sejumlah kejanggalan membuat penyidik melakukan pendalaman lebih lanjut hingga akhirnya pelaku mengakui semuanya hanya karangan.

“Pelaku ini melakukan kebohongan karena butuh uang dan ingin lepas dari beban cicilan kendaraan,” kata Gigih.

Kasus ini turut menjadi gambaran bagaimana tekanan ekonomi bisa mendorong seseorang mengambil jalan pintas, bahkan sampai menyeret institusi negara demi menutupi persoalan pribadi.

Kini, alih-alih terbebas dari cicilan, Mrp justru harus berhadapan dengan proses hukum.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini