Keputusan Prof. Raymond kembali ke Indonesia demi mengembangkan riset berbasis biodiversitas lokal mirip dengan langkah Tu Youyou, peneliti Tiongkok yang menemukan artemisinin dari tanaman tradisional. Sama seperti Tu Youyou, Prof. Raymond melihat potensi besar dalam kekayaan hayati negaranya, lalu mengubahnya menjadi inovasi farmasi yang teruji secara ilmih.
Keputusan Prof. Raymond kembali ke Indonesia demi mengembangkan riset berbasis biodiversitas lokal mirip dengan langkah Tu Youyou, peneliti Tiongkok yang menemukan artemisinin dari tanaman tradisional.
Sama seperti Tu Youyou, Prof. Raymond melihat potensi besar dalam kekayaan hayati negaranya, lalu mengubahnya menjadi inovasi farmasi yang teruji secara ilmiah.
Integrasi Hukum dan Etika
Kini, Prof. Raymond menempuh doktor hukum di UPH untuk memperkuat riset farmasi dengan regulasi dan etika.
Langkahnya ini mengingatkan pada Dr. Frances Kelsey, ilmuwan FDA yang menolak persetujuan obat thalidomide karena alasan keamanan.
Keduanya menegaskan bahwa inovasi tanpa landasan hukum dan etika bisa berbahaya, meski secara saintifik menjanjikan.
“Pengembangan fitofarmaka bukan hanya soal sains, tetapi juga soal bagaimana memastikan setiap inovasi dapat diterapkan secara bertanggung jawab dan memberi manfaat nyata,” katanya.
Baca juga: Ilmuwan Temukan Titik Rawan Gempa Megathrust Berikutnya Ada di Sumatra hingga Andaman
Pengembangan OMAI dan Fitofarmaka Sejajarkan Indonesia dan Jepang
Pengembangan Obat Modern Alami Integratif (OMAI) oleh Prof. Raymond menempatkan Indonesia di jalur serupa dengan Jepang dan Korea Selatan, yang berhasil mengintegrasikan riset herbal ke dalam sistem kesehatan modern.
Bedanya, Prof. Raymond menekankan pembuktian klinis dan kepatuhan regulasi agar OMAI tidak sekadar jadi “jamu modern,” melainkan fitofarmaka yang diakui dunia.
Keanggotaannya di Sigma Xi dan AD Scientific Index menempatkan Prof. Raymond dalam jajaran ilmuwan global, mirip dengan George Whitesides, kimiawan Harvard yang dikenal produktif sekaligus lintas disiplin. Keduanya menunjukkan bahwa produktivitas ilmiah bukan sekadar angka publikasi, melainkan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Baca tanpa iklan