News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Nunung dan Kondisi Kesehatannya

Tunggu Hasil Biopsi, Nunung Srimulat Pasrah, Tapi Masih Harap Benjolan di Dada Bukan Kanker Payudara

Penulis: Willem Jonata
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Nunung Srimulat ketika ditemui di gedung Trans TV, Jalan Kapten Tendean, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Kamis (2/2/2023).

Alasan kedua, pasien malu memeriksakan diri jika ada benjolan di payudara. Kemudian, pasien juga dipengaruhi oleh kesadaran, faktor pendidikan, dan faktor sosial budaya. 

“Hal ini membuat pasien umumnya tak tahu ini suatu tanda-tanda keganasan, apakah tanda-tanda tumor jinak, enggak tahu sama sekali,” katanya. 

Lebih lanjut, dr. Bajuadji juga menjelaskan faktor lainnya yang membuat pasien terlambat datang ke RS karena menggunakan pengobatan alternatif atau herbal, misalnya ke sinshe atau akupuntur, yang sebenarnya tidak terlalu aware dengan adanya benjolan.

Baca juga: Kanker Payudara Harus Ditangani dengan Pengobatan Medis Bukan Herbal

Guna mencegah terjadinya keparahan kanker payudara dibutuhkan deteksi sedini mungkin, misalnya sebelum memeriksakan diri secara medis, perempuan bisa mengecek sendiri dengan Sadari (periksa payudara sendiri). Sementara pemeriksaan medis bisa dilakukan dengan alat mammogram.

Deteksi dini adalah cara paling tepat untuk mencegah terjadinya penyakit tersebut. Cara mendeteksi yang paling gampang adalah dengan Sadanis (periksa payudara secara klinis), yang merupakan standar WHO dan harus menggunakan alat mammogram.

“Sebelum pemeriksaan Sadari dan Sadanis, itu kita mesti tahu dulu gejala atau keluhan pada keganasan payudara,” ujar dr. Bajuadji. 

Berbicara gejalanya, 80 persen dari pasien pengidap kanker payudara mengeluh adanya benjolan. Benjolan itu bisa disertai rasa nyeri, bisa juga tidak disertai rasa nyeri atau benjolan di ketiak.

Keluar cairan dari puting susu bisa berwarna merah darah, kuning, putih atau bening, dengan bentuk puting susu masuk ke dalam.

Terdapat juga perubahan bentuk dan permukaan dari payudara, bisa ukurannya menjadi lebih besar dari payudara normal. Umumnya payudara yang sakit, lebih besar ukurannya. Kemudian ada luka di area puting susu (areola) mirip lecet atau luka biasa.

Warna kulit payudara juga menjadi kemerahan, atau seperti gambaran kulit jeruk. Jika ada luka, dr. Bajuadji menyebut paling tidak sudah mencapai stadium 2-3 lanjut.

Faktor risiko dan sederet mitos seputar kanker payudara

Banyak mitos seputar kanker payudara, yang pada umumnya diduga karena memakai bra saat tidur di malam hari. Pemakaian deodoran hingga terlalu banyak konsumsi gula juga disebut-sebut pemicu sel kanker pada payudara.

“Jadi yang tadi disebutkan, bra malam hari kawat atau deodoran atau pewangi, pemakaian bra dan gula, sama sekali tak ada hubungannya, tak ada kaitannya,” ungkap dr. Bajuadji. 

Lantas, apa faktor risiko atau pemicu kanker payudara? Ada sederet penyebabnya, antara lain;

1. Penggunaan pengobatan hormon seperti KB pil, suntik, atau implan. Atau juga pengobatan hormon lainnya, bisa menjadi faktor risiko karena mengganggu keseimbangan hormon. 

Halaman
1234
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini