News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Pekerja dengan Jam Kerja Berlebihan dan Gaya Hidup yang Buruk Rentan Sakit Jantung

Penulis: M Alivio Mubarak Junior
Editor: Willem Jonata
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Serangan jantung tidak lagi identik dengan kelompok lanjut usia. 

Dalam beberapa tahun terakhir, kasus penyakit jantung mulai banyak ditemukan pada usia produktif, dipicu oleh gaya hidup tidak sehat seperti merokok, pola makan tinggi lemak, kurang aktivitas fisik, hingga stres berkepanjangan.

Kondisi ini menjadi alarm serius, mengingat kelompok usia produktif merupakan tulang punggung keluarga sekaligus penggerak ekonomi. 

Sayangnya, banyak penderita baru menyadari adanya gangguan jantung setelah kondisi sudah cukup berat dan membutuhkan tindakan medis lanjutan.

Direktur Regional Mitra Keluarga Group, dr. Arina Yuli Roswitati, MS., MARS, menilai penyakit jantung saat ini semakin kompleks dan membutuhkan kesiapan layanan yang komprehensif.

Baca juga: Sakit Jantung di Usia Muda, Dokter Spesialis Beberkan Pemicunya

"Penyakit jantung saat ini masih menjadi tantangan kesehatan yang semakin kompleks, sehingga membutuhkan kesiapan layanan yang menyeluruh dan berkesinambungan," kata dr. Arina ditemui di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, Rabu (4/2/2026).

"Penguatan layanan jantung tidak hanya berfokus pada tindakan operatif, tetapi juga pada deteksi dini, kesinambungan perawatan, serta edukasi pasien agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan tepat," tambahnya.

Menurutnya, deteksi dini menjadi kunci penting untuk menekan angka komplikasi dan kematian akibat penyakit jantung. 

Pemeriksaan rutin seperti cek tekanan darah, kadar kolesterol, gula darah, serta evaluasi risiko kardiovaskular dapat membantu mengidentifikasi potensi gangguan sebelum berkembang menjadi kondisi darurat.

Di sisi lain, pemerataan akses layanan bedah jantung di Indonesia masih menjadi tantangan. 

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan, hingga akhir 2022 baru sembilan provinsi yang memiliki kemampuan melakukan operasi bypass jantung. 

Keterbatasan ini berdampak pada panjangnya antrean pasien di sejumlah fasilitas kesehatan, bahkan bisa mencapai 6 hingga 18 bulan.

Pemerintah pun menargetkan pada 2027 seluruh provinsi di Indonesia mampu melakukan operasi bypass jantung sebagai bagian dari upaya pemerataan layanan kesehatan jantung nasional.

Sebagai bagian dari penguatan layanan, program unggulan MICRO (Minimal Invasive Cardiac Surgery with Rapid Recovery) diperkenalkan sebagai protokol bedah jantung terintegrasi. 

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini