Laporan Wartawan Tribunnews.com, M Alivio Mubarak Junior
Ringkasan Berita:
- Mendukbangga/Kepala BKKBN, Wihaji, menyoroti kondisi global yang tengah diliputi ketidakpastian akibat konflik yang masih berlangsung di kawasan Asia Timur Tengah.
- Indonesia memiliki peluang untuk tetap bertahan bahkan bangkit di tengah situasi ekonomi global yang kurang kondusif.
- Sinergi hadapi ketidakpastian kondisi global menurtnya harus dimulai dari lingkup terkecil, yakni keluarga sebagai fondasi utama.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN menyelenggarakan kegiatan Bincang Keluarga bertema Sucikan Hati dalam Kebersamaan, Bersinergi Mewujudkan Keluarga Sejahtera dan Tangguh Menuju Indonesia Emas 2045.
Acara tersebut digelar di kantor Kemendukbangga/BKKBN, Jakarta Timur, pada Kamis (2/4/2026).
Baca juga: Satu Tahun GENTING, Mendukbangga Sebut Dana Rp 290 Miliar Terkumpul, 1,5 Juta Keluarga Terbantu
Dalam kesempatan itu, Mendukbangga/Kepala BKKBN, Wihaji, menyoroti sejumlah hal penting, terutama kondisi global yang tengah diliputi ketidakpastian akibat konflik yang masih berlangsung di kawasan Asia Timur Tengah.
Meski demikian, ia menilai Indonesia memiliki peluang untuk tetap bertahan bahkan bangkit di tengah situasi ekonomi global yang kurang kondusif.
Ia juga menekankan sinergi harus dimulai dari lingkup terkecil, yakni keluarga sebagai fondasi utama.
Penguatan peran keluarga sebagai basis pembangunan bangsa menjadi perhatian utama Kemendukbangga/BKKBN, khususnya setelah momentum Ramadan.
"Kalau kita membangun negara dengan keyakinan dan optimisme, insyaallah akan baik-baik saja. Kuncinya adalah kerja sama," kata Menteri Wihaji.
"Unit terkecil dalam negara adalah keluarga. Kalau keluarga baik-baik saja, insyaallah negara akan baik-baik saja," lanjutnya.
Wihaji menegaskan ketahanan keluarga menjadi akar kekuatan sebuah bangsa.
Ia menyoroti pentingnya membangun keluarga melalui delapan fungsi utama, yakni fungsi agama, sosial budaya, cinta kasih, perlindungan, reproduksi, pendidikan, ekonomi, dan lingkungan.
Kedelapan fungsi tersebut menjadi pedoman bagi keluarga Indonesia agar mampu bertahan sekaligus berkembang di tengah dinamika zaman.
Dalam sesi bincang keluarga, Ustadzah sekaligus dokter Aisah Dahlan turut hadir sebagai narasumber. Ia mengajak peserta memahami makna “menyucikan hati” melalui pendekatan ilmiah dan spiritual.
Baca tanpa iklan