TRIBUNNEWS.COMĀ - Gelaran Thomas Uber Cup 2024 di Chengdu, China, menyisakan memori Indah bagi bulu tangkis Indonesia.
Untuk pertama kalinya sejak edisi 1998, Merah Putih berhasil mengirimkan dua wakilnya sekaligus ke partai puncak turnamen beregu paling bergengsi di dunia ini.
Meski berakhir dengan torehan yang kontras, kiprah tim putra dan putri di Chengdu menjadi sinyal kebangkitan.
Selain itu juga jadi patokan untuk melakukan evaluasi menyusul gelara Thomas Uber Cup 2026 pada bulan April mendatang.
Kilas Balik Uber Tahun 2024
Sorotan utama tertuju pada perjalanan heroik tim uber Indonesia.
Datang dengan status non-unggulan, Gregoria Mariska dan kolega awalnya tidak masuk list tim favorit.
Terlebih jika dibanding raksasa Asia Timur seperti Jepang, Korea Selatan, dan China, serta kekuatan Asia Tenggara, Thailand.
Namun, fakta di lapangan berbicara lain. Meski lolos ke babak knock-out sebagai runner-up grup setelah kalah dari Jepang, Srikandi Indonesia justru tampil spartan di fase gugur.
Kejutan besar terjadi saat Indonesia melibas Thailand dengan skor telak 3-0 di perempat final.
Puncaknya, di babak semifinal, mentalitas baja ditunjukkan saat menundukkan sang juara bertahan Korea Selatan yang dipimpin An Se-young dengan skor tipis 3-2.
Kemenangan dramatis ini mengakhiri penantian 16 tahun untuk kembali ke final sejak 2008.
Sayangnya, di partai puncak, Indonesia harus mengakui keunggulan China selaku tuan rumah.
Secara komposisi pemain dan kematangan mental, Negeri Tirai Bambu memang tampil lebih solid dan dominan.
Hasil Pahit Tim Thomas
Di sisi lain, tim Thomas Indonesia membawa beban target yang lebih berat.
Jonatan Christie cs memang dipatok untuk membawa pulang trofi ke tanah air.
Baca juga: Jadwal dan Format Thomas & Uber Cup 2026, Ini Syarat Indonesia Lolos 8 Besar
Baca tanpa iklan