Ambisi ini merupakan misi penebusan setelah pada edisi 2022 lalu juga berhasil menembus final namun harus tunduk di tangan India.
Apesnya, memori pahit itu terulang di Chengdu. Setelah mencapai final untuk kedua kalinya secara beruntun, tim putra justru kembali gagal di rintangan terakhir setelah takluk dari China.
Dua kegagalan beruntun di partai final Thomas Cup menjadi catatan minor yang menyesakkan bagi skuad putra.
Walaupun secara konsistensi Indonesia masih berada di jajaran elite, kegagalan mengonversi peluang di laga krusial menjadi evaluasi teknis maupun mental yang mendesak bagi jajaran pelatih.
Kini, menatap edisi 2026 yang akan segera bergulir, harapan besar kembali digantungkan.
Pencapaian kawin final di tahun 2024 setidaknya bisa terulang kembali.
Fokus utama tentu berada di pundak tim putra untuk memutus tren negatif dan membawa pulang trofi Thomas Cup.
Sementara itu, bagi tim putri, tantangan terbesarnya adalah menjaga konsistensi performa agar tetap mampu bersaing di level tertinggi.
Yang jelas untuk membuktikan bahwa prestasi di Chengdu bukanlah sekadar momentum sesaat.
(Tribunnews.com/Niken)
Baca tanpa iklan