News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

BWF World Tour

Raymond–Joaquin Ungkap Momen Tersulit Debut Thomas Cup 2026: Tak Sesuai Ekspektasi, Sulit Move On

Penulis: Abdul Majid
Editor: Acos Abdul Qodir
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

DEBUT THOMAS CUP — Pebulutangkis ganda putra Indonesia, Raymond Indra dan Nikolaus Joaquin, saat diwawancarai usai latihan di Pelatnas PBSI Cipayung, Jakarta, Rabu (20/5/2026). Keduanya mengungkap momen tersulit debut Thomas Cup 2026 yang dinilai tak sesuai ekspektasi dan sulit dilupakan.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Indonesia harus mengakhiri langkah lebih cepat di Thomas Cup 2026 setelah gagal melewati fase grup.

Situasi itu menjadi pengalaman berat bagi sektor ganda putra muda, Raymond Indra dan Nikolaus Joaquin, yang menjalani debut di ajang beregu paling bergengsi tersebut dengan tekanan tinggi sejak awal.

 
Debut Thomas Cup yang Penuh Tekanan

Raymond dan Joaquin mengaku atmosfer Thomas Cup 2026 terasa jauh berbeda dibanding turnamen individu.

Sebagai pemain muda, keduanya langsung dihadapkan pada tanggung jawab besar membawa nama tim di setiap pertandingan.

Nikolaus Joaquin menilai tekanan sudah terasa sejak laga awal dan semakin meningkat saat menghadapi lawan-lawan kuat di fase grup.

“Evaluasinya, kemarin kan pertama kali main di fase grup Thomas Cup. Itu jadi salah satu evaluasi besar karena sebelumnya belum pernah, dan itu juga pengalaman pertama kali saya main Thomas Cup,” ujar Joaquin di Pelatnas PBSI, Cipayung, Jakarta.

Baca juga: Rekam Jejak Indonesia di Thomas Cup: Sejarah Buruk Tercipta di Tahun 2026

 
Atmosfer Beregu Tak Bisa Disamakan

TERSINGKIR - Pebulutangkis ganda putra Indonesia, Raymond Indra/Nikolaus Joaquin, harus mengakhiri langkah di babak 32 besar Badminton Asia Championships 2026 setelah kalah dramatis dari pasangan Korea, Kang Min Hyuk/Ki Dong Ju, Rabu (8/4/2026). (Tribunnews.com/HO/dok: PBSI)

Menurut Joaquin, Thomas Cup memiliki karakter berbeda dibanding turnamen perorangan. Setiap pertandingan membawa beban kolektif yang membuat tekanan mental semakin tinggi.

“Thomas Cup itu dari beregu-beregu yang lain beda sendiri. Tegangnya luar biasa buat saya, karena semua orang pengen main di sana,” katanya.

Ia menyebut suasana pertandingan membuat setiap poin terasa sangat krusial, terutama di fase grup yang menentukan nasib tim.

 
Momen Tersulit: Saat Kekalahan Tak Bisa Diterima

Joaquin mengungkap momen paling berat justru terjadi ketika Indonesia dipastikan tidak lagi memiliki peluang untuk melanjutkan langkah di turnamen.

“Yang belum bisa move on itu pas hari kalahnya,” ungkapnya.

Momen tersebut menjadi pengalaman emosional pertama baginya di level beregu internasional, terutama karena hasil akhir tidak sesuai harapan awal tim.

Baca juga: Fajar/Fikri Move On dari Thomas Cup, Fokus Singapore dan Indonesia Open 2026

 
Raymond Rasakan Tekanan dari Pinggir Lapangan

Meski tidak selalu turun di partai penentu, Raymond Indra tetap merasakan ketegangan besar dari sisi lapangan.

Atmosfer pertandingan yang menentukan nasib tim memberi pengalaman berbeda dibanding turnamen biasa.

“Bisa ngerasain atmosfer sama rasa tegangnya,” kata Raymond.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini