TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Indonesia harus mengakhiri langkah lebih cepat di Thomas Cup 2026 setelah gagal melewati fase grup.
Situasi itu menjadi pengalaman berat bagi sektor ganda putra muda, Raymond Indra dan Nikolaus Joaquin, yang menjalani debut di ajang beregu paling bergengsi tersebut dengan tekanan tinggi sejak awal.
Debut Thomas Cup yang Penuh Tekanan
Raymond dan Joaquin mengaku atmosfer Thomas Cup 2026 terasa jauh berbeda dibanding turnamen individu.
Sebagai pemain muda, keduanya langsung dihadapkan pada tanggung jawab besar membawa nama tim di setiap pertandingan.
Nikolaus Joaquin menilai tekanan sudah terasa sejak laga awal dan semakin meningkat saat menghadapi lawan-lawan kuat di fase grup.
“Evaluasinya, kemarin kan pertama kali main di fase grup Thomas Cup. Itu jadi salah satu evaluasi besar karena sebelumnya belum pernah, dan itu juga pengalaman pertama kali saya main Thomas Cup,” ujar Joaquin di Pelatnas PBSI, Cipayung, Jakarta.
Baca juga: Rekam Jejak Indonesia di Thomas Cup: Sejarah Buruk Tercipta di Tahun 2026
Atmosfer Beregu Tak Bisa Disamakan
Menurut Joaquin, Thomas Cup memiliki karakter berbeda dibanding turnamen perorangan. Setiap pertandingan membawa beban kolektif yang membuat tekanan mental semakin tinggi.
“Thomas Cup itu dari beregu-beregu yang lain beda sendiri. Tegangnya luar biasa buat saya, karena semua orang pengen main di sana,” katanya.
Ia menyebut suasana pertandingan membuat setiap poin terasa sangat krusial, terutama di fase grup yang menentukan nasib tim.
Momen Tersulit: Saat Kekalahan Tak Bisa Diterima
Joaquin mengungkap momen paling berat justru terjadi ketika Indonesia dipastikan tidak lagi memiliki peluang untuk melanjutkan langkah di turnamen.
“Yang belum bisa move on itu pas hari kalahnya,” ungkapnya.
Momen tersebut menjadi pengalaman emosional pertama baginya di level beregu internasional, terutama karena hasil akhir tidak sesuai harapan awal tim.
Baca juga: Fajar/Fikri Move On dari Thomas Cup, Fokus Singapore dan Indonesia Open 2026
Raymond Rasakan Tekanan dari Pinggir Lapangan
Meski tidak selalu turun di partai penentu, Raymond Indra tetap merasakan ketegangan besar dari sisi lapangan.
Atmosfer pertandingan yang menentukan nasib tim memberi pengalaman berbeda dibanding turnamen biasa.
“Bisa ngerasain atmosfer sama rasa tegangnya,” kata Raymond.
Baca tanpa iklan