Beda dengan man City yang hanya mencetak xG 32.59 tetapi bisa menghasilkan 41 gol, dan Inter dengan xG 27.29 yang mencetak 34 gol.
Rasio tersebut jauh berbeda.
Mbappe dan Vinicius jika digabungkan telah melewatkan 14 peluang emas yang seharusnya bisa dikonversikan menjadi gol.
Penyerang elit Eropa biasanya sering melakukan pergerakan tanpa bola dan menghasilkan volume tembakan tinggi akan selalu mencatatkan jumlah peluang gagal yang lebih tinggi karena mereka melakukan lebih banyak tembakan dari area berbahaya.
Mbappe yang telah mencetak 30 gol di semua kompetisi sejak Piala Dunia Antarklub seharusnya bisa menghasilkan gol lebih banyak.
Sementara Vinicius punya situasi yang berbeda. Delapan peluang besar tersebut ia sia-siakan karena pergerakannya yang tiada henti, volume dribbling, dan kemampuannya untuk mengacaukan pertahanan lawan.
Pergerakannya secara intens menciptakan situasi yang mengarah pada kekacauan. Hasilnya bisa berhasil bisa tidak, dan angka produktivitas golnya menjadi cerminan.
Vinicius baru menghasilkan 6 gol dari 30 pertandingan musim ini.
Pertanda bahaya bagi Real Madrid?
Statistik ini dinilai bukanlah sebuah tanda bahaya, melainkan sebagai peringatan bagi klub-klub Eropa, termasuk Real Madrid.
Jika sebagian atau lebih banyak peluang yang bisa dikonversikan menjadi akan lebih baik, dan memberi keuntungan Real Madrid.
Baik itu dalam laga-laga yang menentukan maupun menambah jumlah keunggulan atas tim lain.
Kondisi ini lebih baik daripada jumlah peluang yang sedikit dan gol yang minim.
Ini yang akan menjadi tugas rumah bagi Xabi Alonso menyiapkan lini serang mereka agar lebih buas di pertahanan lawan.
Jika penyelesaian akhir Los Blancos membaik, hasil pertandingan bisa berpihak kepada mereka.
(Tribunnews.com/Sina)
Baca tanpa iklan