News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Piala Dunia 2026

Profil Tony Popovic, Pelatih yang Membawa Australia ke Piala Dunia 2026

Penulis: Muhammad Nursina Rasyidin
Editor: Whiesa Daniswara
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Pelatih timnas Australia, Tony Popovic saat diwawancarai jelang lawan Timnas Indonesia pada matchday ketujuh Grup C Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia. (Website Socceroos - 14/3/2025)

TRIBUNNEWS.COM - Permainan strategis Tony Popovic mengantarkan Australia ke Piala Dunia 2026 pada pertengahan tahun lalu.

Kesempatan ini menjadi yang keenam kalinya secara berturut-turut bagi tim berjuluk Soccerros itu tampil di ajang elit sepak bola empat tahunan dari seluruh berbagai penjuru dunia.

Di bawah asuhan Tony dalam 16 pertandingan sejak Oktober 2024, Australia sudah mengemas 10 kemenangan, dan masing-masing tiga untuk hasil seri dan kalah.

Di babak kualifikasi Piala Dunia 2026 ronde 3 zona Asia, Australia menjadi tidak terkalahkan, termasuk saat menghempaskan Jepang 1-0, mengalahkan Arab Saudi 2-1, dan menghajar Timnas Indonesia 5-1.

Australia pun melenggang mulus ke Piala Dunia 2026 dengan finis di bawah Jepang.

Ini adalah pencapaian dan prestasi lain yang dipersembahkan Tony Popovic saat pertama kalinya memegang timnas.

Sebelumnya, pelatih berusia 52 tahun itu hilir mudik melatih di klub Turki, Yunani, dan beberapa klub Australia: Western Sydney Wanderers, Perth Glory, dan Melbourne Victory.

Popovic telah memenangkan dua gelar juara A League atau Liga Australia, Piala Australia, dan sejarah di Liga Champions Asia tahun 2014 saat memimpin Wanderers debut di ajang tersebut.

Dalam filosofi bermainnya, Popovic gemar menggunakan tiga bek sejajar dengan formasi 3-4-2-1, atau dengan skema lima pemain bertahan di mana dua pemain sayapnya memiliki fleksibilitas untuk membantu serangan maupun pertahanan.

Keputusan taktis yang dia pegang itu bertujuan untuk menciptakan struktur pertahanan yang solid, sekaligus memberikan kepercayaan kepada para penyerang untuk memaksimalkan kemampuan penyelesaian akhir mereka, dalam utasan Dr Alberto Filgueiras dari CQUniversity Australia.

Tony Popovic menuntut anak asuhnya untuk tetap fokus secara mental karena permainannya lebih sering dihabiskan tanpa bola.

Arti lainnya adalah membiarkan lawan menguasai bola, namun ketika mereka mendapat kesempatan mereka akan memaksimalkannya dengan cara yang klinis.

Hal itu terbukti dari pertandingan melawan Jepang yang hanya menguasai bola 30 persen, lalu melawan Arab Saudi hanya 32 persen.

Ia juga mengandalkan transisi permainan. Dengan begitu, para pemain harus lebih dari sekadar bugar secara fisik, tetapi butuh konsentrasi penuh, disiplin, dan ketahanan.

"Ini lebih dari sekadar kondisi fisik yang kuat, ini adalah keterampilan mental yang hebat," tulis Alberto. 

Halaman
123
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini