TRIBUNNEWS.COM - Tiga puluh lima tahun yang lalu pada 1991, sepak bola Jepang mungkin berada di titik terendahnya.
Liga utama mereka dimainkan oleh para pemain amatir, dan ketika itu Asosiasi Sepak Bola Jepang (JFA) sadar harus melakukan sesuatu untuk mengubah sepak bola tim berjuluk Samurai Biru.
Dua tahun berselang, J League lahir pada Mei 1993, kompetisi profesional sepak bola Jepang yang kini telah berkembang menjadi salah satu yang terbaik di Asia.
Jepang bermimpi memiliki liga yang sukses dan berkelanjutan, liga yang bisa dibanggakan dengan memiliki 100 klub profesional, dan terakhir memenangkan Piala Dunia pada tahun 2092.
Semua itu adalah bagian dari visi jangka panjang 100 tahun yang disusun dalam buku biru JFA.
Pada saat kompetisi profesional belum dimulai, Jepang berada di bawah peringkat 40 ranking FIFA dan jumlah penonton pertandingan domestik yang sedikit menyusul dengan kondisi stadion yang kurang memadai.
Tiga tahun setelah J League bergulir, perubahan mulai tampak. Posisi Jepang di ranking FIFA membaik dengan menempati urutan ke-21 dan adanya peningkatan dalam jumlah penonton mingguan dari kompetisi domestik, menurut catatan These Football Times.
Semuanya berjalan ke arah yang benar. Tapi, pada tahun 1997 saat krisis ekonomi melanda negara Matahari Terbit, semuanya berjalan mundur ke arah yang tidak terduga.
Para investor mundur, sejumlah tim papan atas terancam bangkrut. Hal itu menyebabkan J League harus memiliki rencana jangka pendek dan jangka panjang untuk masa depan sepak bola Jepang.
Di sinilah rencana 100 tahun itu terungkap, dengan tujuan menandai peringatan seratus tahun J League dengan sistem liga yang terdiri dari seratus peserta profesional.
Para petinggi pun bersiap menghadapi bencana ekonomi yang akan datang dikemudian hari, mereka terjun ke komunitas-komunitas di sekitar mereka, membentuk kemitraan dengan perusahaan-perusahaan kecil lokal, serta akademi-akademi tingkat akar rumput.
Tujuannya untuk mempromosikan olahraga kepada anak-anak muda dan mendorong partisipasi serta meningkatkan jumlah penonton.
Pada saat itu, kasta tertinggi sepak bola Jepang hanya diikuti oleh 16 klub, kasta kedua 10 klub. Tapi kini, J1 sudah diikuti 18 klub dan J2 memiliki 22 klub, sebuah peningkatan yang terukur.
Pada fase itu juga, Jepang menandai sejarah mereka untuk tampil di Piala Dunia, tahun 1998 di Prancis meski tersingkir di fase grup.
Baca tanpa iklan