Penelitian menunjukkan metode ini dapat membantu menurunkan suhu inti tubuh, mempercepat pemulihan, dan meningkatkan performa pemain di lapangan.
Timnas Inggris diyakini akan memanfaatkannya dalam latihan maupun saat jeda minum di pertandingan.
Selain Inggris, negara-negara Eropa lain juga dituntut beradaptasi, termasuk Portugal yang diperkuat Cristiano Ronaldo.
Para pemain Eropa yang terbiasa bertanding di cuaca lebih dingin harus menyesuaikan diri dengan kondisi panas di Amerika Latin.
Meski tantangan cuaca menjadi perhatian, Portugal tetap mendapat banyak dukungan.
Salah satunya datang dari gelandang PSM Makassar, Muhammad Arfan, yang mengaku antusias menantikan aksi Cristiano Ronaldo di turnamen tersebut.
Arfan menilai kehadiran Ronaldo sebagai pemimpin tim masih menjadi faktor penting yang dapat membantu Portugal bersaing di level tertinggi.
“Portugal, karena memiliki pemain yang berpengalaman dan berkualitas. Pemain kuncinya Ronaldo,” kata Arfan, dikutip dari Tribun Timur.
“Optimis Portugal raih juara Piala Dunia pertama tahun ini,” tegasnya.
Keuntungan Tim Amerika Latin
Sementara itu, pengalaman cuaca panas di turnamen sebelumnya seperti Piala Dunia Antarklub 2025 di Amerika Serikat juga menjadi gambaran nyata sulitnya adaptasi bagi pemain Eropa.
Pelatih Borussia Dortmund, Niko Kovac, bahkan sempat mengeluhkan kondisi tersebut.
“Kami berkeringat seperti sedang berada di sauna,” ujar Niko Kovac kala itu.
Di sisi lain, tim-tim Amerika Latin seperti Argentina yang dibela Lionel Messi dan Brasil dinilai memiliki keuntungan karena lebih terbiasa dengan suhu panas, yang dapat menjadi faktor pembeda dalam persaingan Piala Dunia 2026.
Sebagai contoh Piala Dunia 1994 yang digelar di Amerika Serikat. Kala itu, Brasil keluar sebagai juaranya setelah mengalahkan Italia dalam babak adu penalti.
(Tribunnews.com/Ali) (TribunTimur/Kaswadi Anwar)
Baca tanpa iklan