Di saat bersamaan, persaingan semakin sengit.
WhatsApp, Facebook Messenger, Apple FaceTime, dan aplikasi baru seperti Signal mulai menawarkan panggilan peer-to-peer (P2P) secara gratis.
Di ranah bisnis, Slack dan Microsoft Teams muncul sebagai solusi komunikasi yang lebih praktis.
Basis pengguna Skype yang dahulu setia pun mulai beralih ke platform lain.
Pandemi COVID-19
Pandemi COVID-19 pada tahun 2020 seharusnya menjadi momentum emas bagi Skype.
Namun kenyataannya, justru Zoom yang mengambil alih pasar rapat virtual.
Kemudahan penggunaan membuat Zoom lebih disukai, sementara Skype terus bergumul dengan gangguan teknis dan antarmuka yang rumit.
Melihat tren ini, Microsoft mulai memusatkan investasinya ke platform lain: Teams.
Seiring dengan meningkatnya popularitas Teams, Skype semakin dilupakan.
Bahkan lonjakan pengguna Skype pada awal pandemi tak mampu menyelamatkannya.
Microsoft Fokus ke Teams
Microsoft kini memilih untuk sepenuhnya fokus pada pengembangan Teams.
Satu-satunya bagian Skype yang tetap tersedia adalah Skype for Business, yang memang sudah terintegrasi dengan ekosistem Teams.
Pada 2025, jumlah pengguna aktif bulanan Skype menyusut menjadi sekitar 23 juta, turun drastis dari 150 juta pada 2011, dan jauh di bawah 400 juta pengguna terdaftar yang pernah dicapai.
Apa yang Terjadi dengan Data Pengguna?
Mengutip Al Jazeera, Microsoft mendorong pengguna untuk beralih ke Teams dengan mengunjungi situs skype.com dan menggunakan fitur “Mulai menggunakan Teams.”
Seluruh riwayat obrolan dan daftar kontak Skype akan tetap dapat diakses melalui Teams dengan menggunakan kredensial login yang sama.
Pengguna diberi waktu hingga Januari 2026 untuk mengunduh atau memigrasikan data mereka sebelum dihapus secara permanen.
(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)
Baca tanpa iklan