"Dalam industri dengan kebutuhan investasi jaringan yang sangat besar, sinergi antara backbone dan last mile akan menekan duplikasi belanja modal sekaligus meningkatkan utilisasi aset yang sudah ada. Hal ini dinilai penting agar ekspansi jaringan tetap berkelanjutan tanpa membebani struktur keuangan perusahaan," ujarnya, Rabu (24/12/2025).
Selain optimalisasi biaya, integrasi ini juga membuka ruang inovasi layanan digital. Dengan kendali yang lebih menyeluruh atas rantai nilai, entitas gabungan memiliki fleksibilitas untuk mengembangkan layanan bundling, konektivitas berbasis cloud, hingga solusi data untuk segmen korporasi dan UMKM.
Skala jaringan yang lebih luas juga memperkuat daya tawar terhadap vendor teknologi serta mitra global.
Dari perspektif kebijakan publik, merger ini dinilai sejalan dengan agenda percepatan dan pemerataan akses digital nasional.
Rizal menilai penguatan pemain infrastruktur domestik menjadi krusial di tengah meningkatnya kebutuhan konektivitas.
Ia menilai entitas hasil penggabungan berpotensi menjadi mitra strategis pemerintah dalam memperluas akses internet yang stabil dan terjangkau, khususnya di wilayah non-urban dan kawasan berkembang.
Meski demikian, Rizal mengingatkan bahwa tantangan pasca merger tetap perlu dicermati, terutama terkait integrasi operasional dan budaya organisasi.
"Penyelarasan sistem, pengelolaan sumber daya manusia, serta konsistensi kualitas layanan akan menjadi faktor penentu apakah skala besar ini benar-benar berujung pada keunggulan kompetitif jangka panjang," ujarnya.
Dengan fondasi infrastruktur yang kuat, basis pelanggan yang luas, serta dukungan pemegang saham strategis, Moratelindo–MyRepublic Indonesia memasuki fase baru sebagai pemain terintegrasi di industri digital Indonesia.
Jika sinergi operasional dan finansial yang direncanakan dapat dieksekusi secara disiplin, entitas hasil merger ini berpotensi menjadi salah satu penggerak utama percepatan dan pemerataan ekosistem digital nasional dalam beberapa tahun ke depan.
Baca tanpa iklan