News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Ramadan Makin Dekat, Saatnya Mengatur Lingkungan Digital Lewat Platform Muslim

Editor: Andra Kusuma
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Iman dibentuk perlahan oleh lingkungan, termasuk media sosial. Menata lingkungan digital jadi langkah penting agar ibadah Ramadan lebih khusyuk.

TRIBUNNEWS.COM - Kurang dari 15 hari lagi, umat Islam akan menyambut datangnya bulan suci Ramadan 1447 H.

Menjelang awal puasa, penting bagi kita untuk menjaga dan memperkuat iman agar dapat menjalankan ibadah Ramadan dengan lebih khusyuk dan penuh makna.

Iman jarang “runtuh” dalam semalam.

Seringnya, ia berubah perlahan layaknya kebiasaan: kadang menguat karena konsistensi dan pengingat yang tepat, namun kadang melemah karena ketergesaan, kelelahan, dan lingkungan yang membuat agama terasa “tidak terlalu penting”.

Baca juga: Kapan Awal Puasa 1 Ramadan 1447 Hijriah 2026 Versi Muhammadiyah?

Karena itu, pertanyaan “seperti apa lingkunganku?” bukan soal popularitas atau kenyamanan, melainkan tentang apa yang setiap hari membentuk pola pikir, pilihan, dan keteguhan batinmu.

Kita mungkin tulus ingin lebih dekat kepada Allah, tapi hidup dalam kondisi yang pelan-pelan mendorong ke arah sebaliknya: obrolan tanpa faedah, dosa yang dianggap lumrah, sikap sinis, dan distraksi tanpa ujung.

Sebaliknya, bahkan ketika kita sedang lemah, lingkungan yang baik bisa “menopang” – mengingatkan, menenangkan, dan membantu kita kembali pada kebaikan.

Dalam Islam, perkara dengan siapa kita bergaul sangatlah diperhatikan.

Baca juga: Kapan Libur Awal Puasa Ramadan 2026 Anak Sekolah? Cek Jadwalnya di Sini

Medsos sebagai Bagian Lingkungan: Menguatkan atau Melalaikan?

Bagi banyak dari kita, sebagian besar “lingkungan” kini berada di dalam genggaman ponsel: chat, linimasa, akun yang diikuti, dan video pendek.

Jika lingkungan offline (kerja, kampus, tetangga) sulit diubah secara instan, lingkungan digital justru bisa diatur dengan cepat – cukup dengan memilih apa yang kita konsumsi dan dengan siapa kita berinteraksi.

Itulah sebabnya banyak Muslim hari ini secara sadar membangun lingkungan online yang lebih “bermanfaat”.

Ada yang merapikan daftar following, ada yang pindah ke komunitas tematik atau platform Muslim seperti jejaring sosial Salam.life dan Muslimica, karena di sana lebih mudah menemukan sesama Muslim, berdiskusi hal penting, dan tidak merasa religius itu “aneh”.

Media sosial bukan sekadar hiburan – ia adalah aliran nilai dan norma yang masuk setiap hari.

Linimasa menciptakan “latar belakang”: apa yang dianggap penting, apa yang ditertawakan, bagaimana orang memandang hijab, kesopanan, dan dosa.

Halaman
1234
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini