Seluruh rangkaian uji tersebut menjadi bagian dari misi aeronautika NASA bertajuk Quesst, yang bertujuan membuka jalan bagi penerbangan komersial supersonik di atas daratan—sesuatu yang selama ini dibatasi akibat dampak ledakan sonik.
Ke depan, NASA berencana menerbangkan X-59 di atas sejumlah wilayah permukiman di Amerika Serikat untuk mengukur respons masyarakat terhadap suara yang dihasilkan. Data tersebut akan menjadi dasar bagi regulator nasional dan internasional dalam merumuskan kebijakan baru terkait penerbangan supersonik.
Namun, dalam pengujian sebelumnya, X-59 sempat menghadapi kendala teknis. Pada penerbangan kedua, Jumat (20/3/2026), pesawat hanya bertahan di udara selama sembilan menit sebelum akhirnya mendarat lebih awal akibat munculnya lampu peringatan di kokpit.
“Meskipun mendarat lebih awal, ini adalah hari yang baik bagi tim. Kami mengumpulkan lebih banyak data, dan pilot mendarat dengan selamat,” kata Cathy Bahm, manajer proyek Low-Boom Flight Demonstrator NASA di Pusat Penelitian Penerbangan Armstrong, Edwards, California.
Sebelumnya, X-59 dengan panjang sekitar 30,5 meter melakukan penerbangan perdananya pada 29 Oktober 2025, lepas landas dari fasilitas Skunk Works di Palmdale, California.
Jika seluruh pengujian berjalan sesuai rencana, X-59 berpotensi menjadi tonggak penting dalam menghadirkan era baru transportasi udara—lebih cepat tanpa mengorbankan kenyamanan masyarakat di darat.
Baca juga: Peluru Supersonik Kemungkinan Dipakai untuk Tembak Charlie Kirk, Kata Pakar
Perbandingan Kecepatan
Diketahui X-59 dirancang mampu mencapai kecepatan sekitar Mach 1,4 atau setara kurang lebih 1.510 km per jam.
Angka ini memang lebih rendah dibandingkan pesawat supersonik legendaris seperti Concorde yang mampu melesat hingga Mach 2,04 (sekitar 2.180 km/jam).
Namun, Concorde memiliki kelemahan besar yakni dentuman sonic boom yang sangat keras, sehingga penerbangan supersonik di atas daratan akhirnya dibatasi di banyak negara.
Di sisi lain, jet tempur modern seperti F-22 Raptor bahkan bisa melaju lebih cepat lagi, mencapai sekitar Mach 2,25 atau sekitar 2.400 km/jam.
Pesawat ini juga memiliki kemampuan supercruise, yakni terbang supersonik tanpa menggunakan afterburner.
Meski begitu, fungsi utamanya adalah militer, bukan transportasi penumpang.
Sebagai perbandingan, pesawat komersial yang umum digunakan saat ini seperti Boeing 747 hanya terbang di kecepatan subsonik, sekitar Mach 0,85 atau kurang lebih 900 km/jam.
Kecepatan ini dianggap paling efisien sekaligus nyaman dari sisi operasional dan kebisingan.
Di tengah perbandingan tersebut, X-59 mengambil posisi yang unik. Pesawat ini memang bukan yang tercepat, tetapi dirancang menjadi yang paling “halus” dalam hal suara di kelas supersonik.
Dengan desain hidung panjang dan bentuk aerodinamis khusus, X-59 bertujuan mengubah sonic boom yang biasanya menggelegar menjadi suara yang jauh lebih lembut, sering disebut sebagai sonic thump. (NASA/space.com)
Baca tanpa iklan