Meski begitu, tidak semua korban bisa mendapatkan pengembalian dana. Sebab, beberapa aplikasi menggunakan sistem pembayaran pihak ketiga di luar sistem resmi Google Play.
Mayoritas aplikasi ini diketahui menargetkan pengguna Android di India, yang merupakan pasar smartphone terbesar kedua di dunia.
Beberapa ciri aplikasi tersebut antara lain:
- Menggunakan kode negara India +91 secara otomatis
- Mendukung sistem pembayaran UPI yang populer di India
- Menampilkan screenshot palsu agar terlihat meyakinkan
- Menggunakan notifikasi email palsu untuk memancing pembayaran pengguna
ESET juga menemukan trik lain yang digunakan aplikasi untuk menipu pengguna. Saat seseorang keluar dari aplikasi tanpa membayar, muncul notifikasi palsu yang mengklaim hasil pencarian riwayat panggilan sudah tersedia.
Ketika notifikasi dibuka, pengguna diarahkan ke halaman pembayaran atau langganan.
Harga layanan palsu tersebut juga bervariasi. Biaya termurah tercatat sekitar 5 euro atau sekitar Rp90 ribu, sedangkan yang paling mahal mencapai 80 dolar AS atau sekitar Rp1,3 juta.
Banyak pengguna sebenarnya sudah memberikan peringatan melalui kolom ulasan di Play Store.
Beberapa komentar menyebut aplikasi itu hanya menampilkan nomor acak dan tidak memberikan data asli.
Namun, aplikasi tetap berhasil menarik jutaan unduhan sebelum akhirnya dihapus.
Kasus ini kembali menjadi pengingat bagi pengguna Android agar lebih berhati-hati saat mengunduh aplikasi, terutama dari pengembang yang belum dikenal.
(Tribunnews.com/Widya)
Baca tanpa iklan