Ada quality control yang bertugas untuk mencicipi menu makanan di eatery ini. Misalnya kalau bumbu batagor terlalu kental atau bubut terlalu cair, maka managemen akan melakukan pendekatan ke PKL dan memberi masukan agar menunya diterima dengan baik oleh pelanggan.
"Setiap tiga bulan sekali kami juga melakukan evaluasi marketing mereka. Ada sistem ringking berdasarkan omset yang nantinya bisa menjadi pemacu mereka untuk berkembang," tambah wanita yang juga dokter spesialis kulit ini.
Yang ada di ringking bawah pun bukan ditinggal atau diberi hukuman. Melainkan dibina agar mampu berinovasi dan bersaing dengan pedagang yang lain.
Begitu juga dengan jenis makanan dan harganya. Agar tetap bisa dijangkau sistem muda, harga makanan di sini dibatasi maksimal harga Rp 11 ribu hingga Rp 25 ribu. Managemen tidak ingin menu terlalu mahal lantaran mereka juga melayani sekmen anak sekolah.
Enam tahun berjalan bisnis eatery ini bahkan sudah membuka cabang di Sidoarjo. "Alhamdulillah sekarang omset kita rata-rata per bulan sampai Rp 200 juta," katanya.
Beberapa waktu yang lalu mereka bahkan sempat didatangi Pemkot untuk diajak kerja sama mengembangkan sentra kuliner milik pemerintah yang juga berkonsep eatery dan menggandeng PKL.
Selaiin itu dari segi desain tempat, ia mengamini bahwa selama ini banyak anak muda yang menggunakan tempatnya untuk makan sambil berfoto. Namun ternyata aspek eatery yang instagramable juga dipakai eatery ini namun bukan aspek utama.
"Yang utama tetap rasa dan harga makanan. Kalau untuk pelanggan yang memburu foto, jika makanan tidak enak selesai foto mereka tidak akan kembali. Tapi kalau sebaliknya tentu mereka akan tetap ingin kembali," katanya.
Pendapatan Meningkat
Para pedagang kaki lima yang masuk ke eatery Aiola ternyata merasakan betul perbedaannya dibanding saat masih berjualan di pinggir jalan.
"Dulu kalau masih di jalan, saat hujan, pelanggan sudah pada pulang, nggak ada yang beli, tapi sejak disini saya sudah tidak khawatir," kata Sukun, penjual leker yang sudah setehun bergabung di Aiola.
Jika sebelumnya ia bisa menjual 1,5 kilogram tepung sekarang meningkat menjadi 2,5 kilogram tepung. Atau bisa menghasilkan dan menjual 500 leker.
Begitu jugaa dengan harga lekernya. Saat masih di jalanan ia menjual lekernya Rp 1000 ber biji. Namun di sini Rp 11000 dapat enam leker.
"Alhamdulillah, selain itu mereka juga memberikan inovasi menu. Kayak memberi keju mozarella mereka yang memberi modal juga," kata pria yang sudah 30 tahun berjualan leker di Kampus A Unair ini.
Hal serupa juga disampaikan oleh Iskandar Darojat pemilik Mie Pithik Bang Azat. Ia menyebut mie ayamnya semakin berkembang. Dulu ia biasa berjualan di SMA komplek dan sekitar Balaikota.
Per hari mie ayam bisa dijual sampai 400 porsi. Dengan mie sebanyak 30 kilogram. Padahal sebelumnya maksimal mereka hanya menjual 15-17 kilogram saja.
"Modelnya bagi hasil sebanyak 25 persen per porsi. Tapi kami tidak merasa rugi. Sebab pelanggan yang datang juga pasti merasa lebih nyaman makannya dibandingkan makan di pinggiran jalan," ucap pria yang akrab disapa Bang Ujang ini.
(fz/Fatimatuz Zahroh)
Baca tanpa iklan