TRIBUNNEWS.COM - Bagi penggemar sate kambing maupun ayam khas Madura di seputaran
pertigaan Platar Jepara tidak akan asing lagi dengan warung sate Bang
Rahmad. Selain di kenal enak bumbunya juga murah harganya , karena
sama-sama 10 tusuk namun daging ayam ataupun kambing bikinan bang Rahmad
dagingnya cukup besar dibandingkan dengan lainnya. Sehingga jika kita
sama-sama makan 10 tusuk sate , makan di warung bang Rahmad ini jauh
lebih puas dibandingkan dengan warung sate Madura di tempat lain. Karena
jauh lebih murah itulah maka warung sate ini tidak memerlukan waktu
yang lebih lama dalam rangka menunggu pelanggannya . Buka sehabis sholat
ashar menjelang maghrib dan tutupnya ketika dagangannya habis , bisa
jam 8 malam , jam 9 malam ataupun sebelumnya.“ Paling malam saya
jualan jam 9 malam , bahkan kalau sedang ramai habis isya’ semua
dagangan habis baik sate ayam maupun sate kambing . Apalagi jika ada
pelanggan yang mempunyai hajatan misalnya kumpulan atau pesta yang lain
kami bisa pulang lebih gasik lagi “ tutur Bang Rahmad yang asli Madura
dan telah berjualan di pertigaan yang menuju ke desa Mangunan sudah
lebih dari 10 tahun.Dengan
logat maduranya yang masih kental , bang Rahmad menjelaskan sebelum dia
jualan mangkal di pinggir jalan Jepara – Kedung ini dia juga pernah
berjualan keliling dengan menggunakan gerobag dan sepeda motor sampai
dengan desa-desa di Wedung kabupaten Demak. Sehingga habis shalat dhuhur
dia telah mempersiapakan segala sesuatunya baik lontong, daging ,
maupun bumbunya sampai di desa tujuan dagangan dipindahkan ke gerobag
yang dititipkan di rumah warga seterusnya dia keliling kampung dengan
jalan kaki. Menurutnya jualan sate dengan menggunakan gerobag jauh
banyak resikonya dibandingkan dengan mangkal membuka tenda seperti
dirinya sekarang. Selain hujan yang menjadi halangan , juga
kadang-kadang banyak anak-anak nakal yang menganggu dengan minta sate
namun tidak bayar . Selain itu kadang-kadang ban sepeda motor atau
kempes ditengah jalan sehingga menganggu perjalanan yang mengakibatkan
sate tidak habis karena kemaleman.“
Tapi setelah mangkal disini saya merasa nyaman sekali , selain
pelanggan saya sudah banyak kami selalu mementingkan kepuasan pelanggan
dengan mengambil untung sedikit namun lancar setiap harinya . Sehingga
pelanggan lama tetap berjalan terus dan setiap waktu tambah satu dua
lagi pelanggan baru setelah merasakan kenikmatan dan murahnya sate kami “
, ujar bang Rahmad yang juga menerima pesanan sate untuk keperluan
pesta seperti khitanan, mantenan atau pesta lain yang membutuhkan
hidangan sate ayam maupun sate kambing.Mbah
Haryo (80) warga desa Mangunan salah seorang pelanggan tetap sate ayam
bang Rahmad ini mengaku puas akan sate ayam bang Rahmad ini selain besar
isinya juga murah harganya , sehingga jika dihitung dia sudah menikmati
sate ayam bang Rahmad lebih dari 10 tahun. Menurutnya kenikmatan dan
kemurahan sate bang Rahmad inilah yang menjadikan warung pinggir jalan
ini tiada sepi dari pembeli , selain warga desa sekitarnya banyak
pengguna jalan dari Jepara yang mampir ke warungnya untuk menikmati sate
buatannya. Untuk harga , sate Rahmad ini bersaing dengan warung pinggir
jalan yang lainnya 10 tusuk sate ayam atau kambing dan sepiring nasi
dan segelas es teh atau jeruk manis uang Rp 15.000,- masih dapat
kembalian . “ Kalau saya senangnya makan sate ayam , jika satu
minggu tidak merasakan sate ayam bang Rahmad ini rasanya gimana gitu ,
pernah saya dibohongi anak saya ketika saya suruh belikan sate bang
Rahmad kehabisan dan diganti sate orang lain sampai rumah saya tahu itu
bukan bikinan bang Rahmad selain kecil isinya juga bumbunya kurang
berasa . Sampai sekarang kalau saya sehat dan bisa naik motor saya beli
sendiri ke sini “ cerita mbah Haryo pensiunan Camat yang asli Mangunan
Jepara dengan penuh semangat.Nah bagi para pembaca dimana saja
berada utamanya yang ada di seputaran Jepara atau sedang kunjung di
Jepara bisa mencoba merasakan kelezatan dan kemurahan sate Bang Rahmad
ini . Adapun lokasinya dipinggir jalan raya Jepara – Kedungmalang
tepatnya di perempatan desa Platar yang menuju ke desa Mangunan dengan
tenda khas dengan gambar ayam dan kambing. Jika mencoba ke sana jangan
sampai kemalaman karena jika kelarisan sampai di sana anda anda kecewa
karena satenya telah habis.Ok segitu dulu lain kali nanti kita sambung
kuliner yang lain yang tentunya sebagai alternative jalan-jalan kita. (
FM)<link rel="File-List" href="file:///C:\\\\\\\\DOCUME~1\\\\\\\\Windows\\\\\\\\LOCALS~1\\\\\\\\Temp\\\\\\\\msohtmlclip1\\\\\\\\01\\\\\\\\clip_filelist.xml"><!--[if gte mso 9]><xml>
</xml><![endif]--><link rel="themeData" href="file:///C:\\\\\\\\DOCUME~1\\\\\\\\Windows\\\\\\\\LOCALS~1\\\\\\\\Temp\\\\\\\\msohtmlclip1\\\\\\\\01\\\\\\\\clip_themedata.thmx"><link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:\\\\\\\\DOCUME~1\\\\\\\\Windows\\\\\\\\LOCALS~1\\\\\\\\Temp\\\\\\\\msohtmlclip1\\\\\\\\01\\\\\\\\clip_colorschememapping.xml"><!--[if gte mso 9]><xml>
Normal
0
false
false
false
EN-US
X-NONE
AR-SA
<!--[endif]--><!--[if gte mso 9]><xml>
</xml><![endif]--><style>
<!--
/* Font Definitions */
@font-face
{font-family:"Cambria Math";
panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;
mso-font-charset:0;
mso-generic-font-family:roman;
mso-font-pitch:variable;
mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;}
@font-face
{font-family:Calibri;
panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;
mso-font-charset:0;
mso-generic-font-family:swiss;
mso-font-pitch:variable;
mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}
/* Style Definitions */
p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
{mso-style-unhide:no;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:"";
margin-top:0in;
margin-right:0in;
margin-bottom:10.0pt;
margin-left:0in;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:"Calibri","sans-serif";
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:Calibri;
mso-fareast-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:Arial;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}
a:link, span.MsoHyperlink
{mso-style-priority:99;
color:blue;
mso-themecolor:hyperlink;
text-decoration:underline;
text-underline:single;}
a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed
{mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
color:purple;
mso-themecolor:followedhyperlink;
text-decoration:underline;
text-underline:single;}
.MsoChpDefault
{mso-style-type:export-only;
mso-default-props:yes;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:Calibri;
mso-fareast-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:Arial;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}
.MsoPapDefault
{mso-style-type:export-only;
margin-bottom:10.0pt;
line-height:115%;}
@page Section1
{size:8.5in 11.0in;
margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in;
mso-header-margin:.5in;
mso-footer-margin:.5in;
mso-paper-source:0;}
div.Section1
{page:Section1;}
-->
</style><!--[if gte mso 10]>
<style>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:"Table Normal";
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:"";
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin-top:0in;
mso-para-margin-right:0in;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0in;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:"Calibri","sans-serif";
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;}
</style>
<![endif]-->
Fatkhul Muin
Pengelola Blog
: Pusat Informasi Masyarakat Pesisir (http: www.For-Mass.Blogspot.com