Fakta menunjukkan adanya hubungan historis yang cukup baik antara FEI dengan Pordasi. Para petinggi FEI, yang bermarkas di Laissane, Swiss, sudah berulangkali berkunjung ke Indonesia. Legalitas equestrian sebagai bagian yang terintegrasi langsung dengan Pordasi, sejak 1975, bahkan dicapai setelah adanya persetujuan dari Sekjen FEI Chevallier de Menten de Horne. Rekomendasi yang diberikan Horne untuk pengesahan keberadaan bidang equestrian di Pordasi didasarkan pada kemajuan dan perkembangan dari disiplin cabang berkuda yang dikhususkan pada endurance, dressage dan jumping itu.
Dalam konteks 'dualisme organisasi' equestrian yang terjadi saat ini Pordasi sendiri rasanya perlu mengulang kembali kemesraan hubungan seperti yang terjalin di masa lalu itu. Pengurus Pordasi harus aktif untuk melakukan pendekatan lebih serius kepada FEI, sekaligus untuk memperoleh gambaran mengenai revitalisasi equestrian yang benar-benar dikehendaki oleh masyarakat equestrian itu sendiri. Sebab, FEI sendiri tak boleh hanya menerima pelaporan secara sepihak terkait adanya 'kekisruhan' dalam pengelolaan disiplin equestrian tersebut. EFI sah-sah saja merasa tetap 'disayang' oleh FEI. Namun, fakta menunjukkan bahwa justru 'organisasi tandingan' seperti Eqina yang lebih disayang oleh komunitas equestrian tanah air.
* Penulis ada Pecinta dan Pemerhati Olahraga
Baca tanpa iklan