News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tribunners

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email: redaksi@tribunnews.com.

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Menjadi Perempuan Indonesia dan Emansipasi Setengah Hati

AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

KARNAVAL HARI KARTINI - Ratusan siswa SDN gabungan dari SD 06, 08, 011 Kalapa Dua, Depok memperingati hari Kartini dengan melakukan pawai keliling berjalan kaki, mengenakan busana adat tradisional dari berbagai macam daerah, Senin (21/4). Kegiatan ini merupakan bentuk penghormatan terhadap pahlawan perempuan yang memperjuangkan emansipasi kaum hawa, (Warta Kota/adhy kelana/kla)

Masyarakat kita memang telah mengalami degradasi nilai-nilai sosial yang luar biasa, terutama terhadap cara pandangnya mengenai perempuan. Di era kerajaan dulu, sebut sajalah era Mataram, Medhang, Singasari hingga Majapahit, perempuan dipandang sebagai sosok agung. Itulah kenapa orang-orang jaman dulu punya banyak dewi untuk dipuja.

Perempuan, terutama ibu, punya peranan penting. Perempuan adalah simbol pemberi kehidupan. Itu sebabnya mengapa mereka menyebut bumi sebagai ibu pertiwi. Karena sifat-sifatnya seperti seorang ibu. Tangguh, kokoh, dan sabar. Meski kerap dipijak, tapi ibu pertiwi tidak pernah berhenti menumbuhkan tanaman-tanaman sebagai sumber makanan, obat-obatan. Itulah kenapa penghormatan terhadap ibu pertiwi demikian besar di masa lalu. Perlu ada ritual saat tanam padi, ada doa yang dipanjatkan saat musim panen dan tidak ada yang berani melakukan pengrusakan pada ibu pertiwi.

Leluhur kita bahkan mengenal kesetaraan gender sejak lama. Itu sebabnya mereka memiliki konsep lingga dan yoni sebagai simbol keseimbangan.

Sungguh, perempuan Indonesia memiliki potensi untuk memajukan bangsa ini. Kita mungkin perlu memulainya dengan mengubah cara pandang kita terlebih dulu mengenai perempuan. Kita perlu paham bahwa perempuan membutuhkan lebih dari sekedar kesetaraan tingkat pendidikan. Kita memerlukan perlakuan yang adil dan setara dengan laki-laki. Perempuan seharusnya tidak lagi dinilai berdasarkan stereotype masa lalu yang lebih mengedepankan masalah fisik dan urusan domestik semata.

Satu hal konkrit yang bisa kita lakukan sebagai perempuan Indonesia adalah mendidik generasi penerus yang berkualitas. Tidak hanya memiliki kepandaian tapi juga kepekaan sosial. Ini bukan peran yang sepele. Ini persoalan keberlangsungan Indonesia untuk puluhan bahkan ratusan tahun mendatang. Semoga dengan peran aktif kita sebagai perempuan yang kritis dan berdaya, kita bisa membawa bangsa ini menjadi lebih tercerahkan. Habis gelap terbitlah terang.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini