Pada tanggal 9 Februari 1940 bertepatan dengan Muktamar NU ke-15 di Surabaya, Hadratus Syeikh Hasyim Asy’ari mengatakan: “wahai para ulama yang fanatik terhadap madzhab-madzhab atau terhadap suatu pendapat, tinggalkanlah kefanatikanmu terhadap perkara-perkara furu’, di mana para ulama telah memiliki dua pendapat yaitu; setiap mujtahid itu benar dan pendapat satunya mengatakan mujtahid yang benar itu satu akan tetapi pendapat yang salah itu tetap diberi pahala,” (Hasyim Asy’ari, al-Tibyan fi al-Nahyi ‘an Muqatha’ati al-Arham wa al-‘Aqarib wa al-Ikhwan, hal. 33).
Fanatisme yang diusung NU Garis Lurus tidak saja memecah belah warga Nahdliyyin tetapi mengajari umat muslim untuk su’uzh zhon (berburuk sangka) atas NU. Hanya karena ada beda tafsir atas ajaran Hadratus Syeikh Hasyim Asy’ari, NU Garis Lurus memisahkan diri dari jamaah.
Padahal, Hadratus Syeikh sendiri mengutip hadits Nabi saw yang berbunyi: “sungguh Allah tidak akan mengumpulkan umatku dalam kesesatan. Tangan Allah ada di atas jamaah. Barang siapa yang menyingkir, dia menyingkir ke neraka (inallaha ya yajma’u ummati ala dhalaltin, wa yadullahi alal jama’ah, man syadzdza syadzdza ilan nari).” (HR. At-Turmudzi).
Riwayat lain menambahkan, “apabila terjadi perbedaan, maka berpihaklah pada mayoritas, yang berpegang pada kebenaran dan pengikut kebenaran (fa idza waqa’al ikhtilafu, fa ‘alaika bis sawadil a’zhami, ma’al haqqi wa ahlihi),” (HR. Ibnu Majah).
Dalam menafsiri hadits-hadits tersebut, Hadratus Syeikh mengatakan: “kita wajib mendorong saudara-saudara kita yang awam untuk menjaga persaudaraan, menjaga tali silaturahmi, berbuat baik pada tetangga, sanak famili, dan teman-teman; mencintai orang-orang lemah dan rakyat kecil, mencegah terjadinya saling memusuhi, saling hasut, pecah belah dalam beragama,” (Hasyim Asy’ari, Risalah Ahlus Sunnah, hal. 14).
Karena NU Garis Lurus mengabaikan panggung Bahtsul Masail, mereka menyatakan diri penjaga ajaran murni Hadratus Syeikh Hasyim Asy’ari. Namun, dalam realitasnya malah mengkhianati ajaran-ajaran Hasyim Asy’ari sendiri. Yakni, memecah belah umat dan keluar dari jamaah NU dengan menciptakan kelompok kecilnya sendiri.
*Penulis adalah alumni Universitas Al-Azhar, Mesir; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Periode 2010-2015.
Baca tanpa iklan