PEREKONOMIAN global sedang bergerak dari unipolar ke multipolar. Dunia unipolar ditandai oleh dominasi Amerika Serikat (AS) dengan mata uang dollar-nya sebagai satu-satunya mata uang dominan dalam transaksi iunternasional.
Sementara dunia multipolar menempatkan AS bukan lagi sebagai pemain tunggal (monopoli). Terdapat negara lain yang ikut mengendalikan perekonomian global dengan mata uangnya masing-masing.
Kandidatnya, Uni Eropa dengan mata uang euro dan China dengan yuan.
Diskursus mengenai berakhirnya dominasi dollar AS dipicu oleh sanksi AS terhadap Rusia paska aneksasi Krimea, Ukraina tahun 2014. Hal ini memaksa Rusia berhenti menggunakan dollar AS dalam transkasi internasionalnya. Pemerintah Rusia kemudian beralih menggunakan Yuan, China.
Kondisi ini diperparah oleh perilaku Donald Trump, presiden AS yang memberlakukan tarif resiprokal ekstra tinggi ke sejumlah negara, termasuk negara-negara yang tergabung dalam BRICS, yaitu: Brazil, Rusia, India, China, dan South Africa.
Hal ini, mendorong presiden Brazil, Lula mengusulkan pembentukan mata uang bersama (common currency) negara-negara BRICS.
Sejarahnya, mata uang pound sterling Inggris merupakan mata uang dominan dalam transaksi internasional hingga akhir 1930-an, permulaan perang dunia kedua.
Peran pound sterling Inggris memudar sejak perang dunia pertama karena pemerintah Inggris mengalami kesulitan keuangan hingga menjual asset-assetnya untuk membiayai perang dan menghadapi tekanan persaingan dari mata uang lain.
Pada periode tersebut, utang pemerintah Inggris meningkat hingga enam kali lipat menjadi 130 persen dari Gross Domestic Product (GDP). Risiko gagal bayar utang meningkat. Biaya utang naik, yaitu yield obligasi pemerintah Inggris naik dengan harga yang semakin rendah.
Hingga periode great depression tahun 1930-an, pound sterling Inggris masih menjadi mata uang dominan dalam transaksi internasional. Perannya benar-benar tergantikan oleh dollar AS paska perang dunia kedua. Pound sterling mengalami devaluasi pada tahun 1949.
Berakhirnya masa keemasan pound sterling menjadi awal dominasi dollar AS secara global. Momentumnya pada saat pertemuan 700-an delegasi yang berasal dari 44 negara pada tahun 1944 di Bretton Wood, New Hampshire, AS.
Pertemuan tersebut melahirkan kesepakatan Bretton Wood. Kesepakatan ini menjadi titik awal dollar AS menggantikan peran pound sterling Inggris sebagai mata uang dominan secara global. Hingga saat ini, dominasi dollar AS dalam sistem keuangan global sudah lebih dari 80 tahun.
Pertemuan Bretton Wood melahirkan Bretton Wood System (BWS), yaitu sistem devisa yang mengaitkan mata uang masing-masing negara terhadap dollar AS. Terdapat 44 negara bersepakat mengkonversi cadangan devisanya ke dalam dollar AS.
Secara faktual, setelah lebih 70 tahun, world index of international currency usage menunjukkan penurunan peran dollar AS sebagai mata uang utama dunia. Indeks penggunaan dollar AS menurun dari 61 pada tahun 2015 menjadi 59,65 tahun 2025.
Sebaliknya dengan indeks penggunaan euro dan yuan China yang meningkat. Indeks pengguaan euro naik dari 29,94 tahun 2015 menjadi 30,22 tahun 2025. Demikian juga dengan penggunaan yuan, China naik berkali-kali lipat dari 0,95 tahun 2015 menjadi 2,85 tahun 2025.
Baca tanpa iklan